0

NTB Menuju Bumi Sejuta Sapi

Propinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) saat sekarang ini barangkali lebih dikenal sebagai salah satu daerah pariwisata dengan keindahan Pantai Senggigi sebagai daya tariknya ataupun pesona bawah laut tiga Gili di kawasan Lombok Utara, serta masih banyak daya pesona wisata NTB (Pulau Lombok dan Sumbawa) yang tak kalah indahnya dengan Pulau Bali yang namanya lebih dulu mendunia. Nama lain NTB yang telah dikenal di tingkat Nasional adalah Bumi Gora. Berawal dari keberhasilan penerapan teknologi pertanian dengan sistem gogo rancah (padi gogo) ketika NTB mengalami masa-masa sulit atau saat rawan pangan sekitar tahun 1980-an, dipimpin dan dipopuleri oleh Gubernur kala itu H. Gatot Suherman, akhirnya mampu mengatasi rawan pangan serta menjadi cikal bakal keberhasilan NTB menuju swasembada pangan khususnya beras sampai sekarang.

Setelah dua dekade lebih berlalu dan sekarang melalui kepemimpinan Gubernur-Wakil Gubernur H. Zainul Majdi MA-H. Badrul Munir, NTB melaunching sebuah program baru bersamaan dengan pencanangan Percepatan Pencapaian Swasembada Daging Sapi (P2SDS) tahun 2010 di Banyumulek, Kabupaten Lombok Barat yakni program Bumi Sejuta Sapi (BSS). Program NTB BSS merupakan program percepatan pengembangan peternakan sapi menuju populasi satu juta ekor dalam waktu lima tahun (2009-2013). NTB kedepannya diharapkan menjadi propinsi surplus sapi yang dikembangkan terintegrasi dengan sektor lainnya guna mendukung ketahanan pangan berupa protein hewani. BSS dimaksudkan sebagai wilayah pengembangan peternakan khususnya sapi yang bertujuan untuk meningkatkan ekonomi, daya beli, kesehatan, kecerdasan dan kesejahteraan masyarakat.

Beberapa sasaran yang ingin dicapai dari program ini berupa;

  • Tercapainya populasi sapi optimal sesuai dengan daya dukung wilayah, yaitu satu juta ekor;
  • Tercapainya peningkatan produksi dan produktifitas sapi bibit dan sapi potong;
  • Tercapainya grade sapi ras bali NTB sesuai standar;
  • Meningkatnya ketahanan pangan melalui penyediaan daging yang ASUH (Aman, Sehat, Utuh dan Halal);
  • Terwujudnya peternakan sapi yang terintegrasi dengan sektor-sektor terkait;
  • Pemanfaatan padang penggembalaan ternak secara optimal;
  • Terbangunnya pabrik pakan ternak ruminansia;
  • Meningkatnya kapasitas sumber daya manusia dan kelembagaan peternak maupun kandang kolektif;
  • Optimalnya dukungan NTB terhadap Percepatan Pencapaian Swasembada Daging Sapi (P2SDS) Nasional; dan
  • Tercapainya peningkatan pendapatan petani-peternak sapi.

Dalam mewujudkan sasaran dari program ini kebijakan dan strategi yang akan dilaksanakan:

  • Peningkatan populasi dan produktifitas sapi dengan program 3 S yaitu Satu induk-Satu anak-Satu tahun, pengendalian pengeluaran sapi bibit betina, pengendalian pemotongan betina produktif dan pengendalian penyakit pedet;
  • Pengaturan tata ruang padang penggembalaan ternak;
  • pemanfaatan teknologi pakan, lahan basis pakan dan limbah pertanian/industry;
  • Peningkatan penyediaan daging yang ASUH;
  • Pengembangan SDM dan kelembagaan melalui revitalisasi penyuluh peternakan, pengembangan kelompok tani ternak/kandang kolektif dan pengembangan institusi pendukung NTB BSS;
  • Pengembangan sarana dan prasarana peternakan sapi;
  • Peningkatan investasi di bidang peternakan.

Selain penerapan kebijakan dan strategi yang akan dilaksanakan, beberapa langkah-langkah percepatan menuju BSS tersebut adalah peningkatan jumlah induk sapi produktif sebanyak 38-42 % dan kelahiran anak sapi sebesar 75-85%, pengurangan angka kematian anak sapi sampai 10-18%, penurunan angka pemotongan betina produktif 8-15%, meningkatkan angka pertumbuhan 10-15%, mengatur secara cermat pengeluaran sapi bibit antar pulau/antar propinsi, menggalakkan penyediaan pakan ternak yang cukup dan berkualitas serta meningkatkan pengendalian penyakit hewan menular strategis.

Secara nasional NTB telah diakui sebagai daerah penghasil ternak (saat ini masuk urutan 8 nasional) dari jumlah populasi sapi. Data tahun 2008, populasi sapi sebanyak 546.114 ekor. Populasi yang besar ini selain untuk konsumsi sendiri yang mencapai 35.000 ekor per tahun, selebihnya untuk menyuplai kebutuhan daerah-daerah lain di Indonesia diantaranya Kalimantan, Sulawesi, Sumatera, Maluku dan Papua. Bahkan sapi bali asal NTB pernah dilakukan ekspor ke negeri jiran Malaysia dan Timor Leste.

Sapi bali asal NTB banyak diminati karena memiliki keunggulan-keunggulan dibandingkan dengan sapi jenis lainnya karena kemampuan beradaptasi yang baik dengan lingkungan baru, tingkat perkembangan yang cepat, mutu daging yang baik serta yang utama sekali adalah berkaitan dengan asal sapi itu sendiri yaitu NTB yang dikenal sebagai daerah bebas berbagai penyakit menular strategis (Brucellosis, Septicaemia Epizootica, dan Jembrana).

Menilik jauh ke belakang sebenarnya NTB sejak dulu menjadi gudang ternak, dimana sapi terdapat hampir di seluruh desa. Hal ini tidak terlepas dari letak geografis dan potensi wilayah yang mendukung dengan tersedianya lahan yang diperkirakan masih mampu menampung 2 juta unit ternak. Kebudayaan masyarakat yang sejak dulu tidak terpisahkan dari kegiatan beternak, seperti halnya bertani atau lebih tepat diistilahkan petani-peternak turut membantu kemajuan pembangunan peternakan. Bagi masyarakat pedesaan memiliki ternak dapat bermanfaat ganda, sebagai petani fungsi ternak dapat dimanfaatkan sebagai tenaga pembajak sawah sebelum traktor-traktor dikenal luas seperti sekarang. Manfaat lain dari ternak mereka adalah sebagai tabungan yang dapat setiap saat diuangkan atau dijual untuk memenuhi berbagai keperluan.

Saat ini, program BSS menjadi sebuah pilihan jitu mengingat latar belakang sejarah panjang NTB sebagai satu daerah yang sangat berpotensi baik dari SDA maupun SDM yang sebagian besar penduduk bekerja dalam sektor ini, maka upaya membangun dunia peternakan guna mendorong pertumbuhan dan kemajuan di bidang lainnya menjadi satu hal yang sangat penting. Pembangunan peternakan telah terbukti mampu bertahan dari gejolak-gejolak perekonomian masyarakat. Di tengah krisis ekonomi yang menerpa bangsa-bangsa di dunia termasuk Indonesia tahun 1997 dan baru-baru ini melanda Amerika Serikat yang telah berefek pada kebangkrutan perusahaan-perusahaan raksasa telah memunculkan kekhawatiran akan terjadinya resesi global, namun usaha peternakan sapi terutama berbasis pedesaan tetap bertahan dan sangat menjanjikan keuntungan. Sebuah kearifan lokal yang yang lahir dari kebudayaan masyarakat NTB khususnya petani-peternak terdahulu dan masih relevan sampai sekarang tampaknya perlu direnungkan kembali terkait dengan program BSS yang pada akhirnya nanti bertujuan untuk mensejahterakan rakyat.

Arti dan nilai sapi bagi sebagian besar masyarakat adalah modal dan dalam arti luas menjadi tabungan masa depan untuk meraih cita-cita hidup. Tabungan yang banyak tentu akan mempermudah langkah dalam meraih segala tujuan dan impian. Alangkah eloknya kata orang padang, kalau NTB yang telah dikenal sebagai propinsi lumbung padi (swasembada beras) kemudian berikutnya menjadi “Bumi Sejuta Sapi”… Semoga !!, Sukses Pak Gubernur-Wakil Gubernur dan sejahteralah petani-peternak.

*Penulis bertugas di Puskeswan Selong, Kab. Lotim-NTB http://drhyudi.blogspot.com

Filed in: Artikel Member Tags: ,

Get Updates

Share This Post

Related Posts

Leave a Reply

Submit Comment

© 2014 Vet-Indo. All rights reserved.
Designed by Theme Junkie. Busana Muslim