0

Meningkatkan Efisiensi Reproduksi dengan Spermatozoa Kapasitasi

Mengikuti perjalanan bioteknologi reproduksi generasi pertama yang bernama insemenasi buatan (IB) selama sudah sekian puluh tahun, nampaknya belum ada tanda-tanda evolusi apalagi revolusi perkembangannya. Sebut saja misalnya dalam hal komposisi media pengencer, konsentrasi sel spermatozoa dan posisi penempatan sel benih itu di dalam saluran reproduksi sapi betina akseptor. Belum lagi perangkat seleksi akseptor dan bahkan protap yang selama ini sudah dikenal cukup handal, justru cenderung atau paling tidak terkesan tidak dipatuhi secara konsekuen dan konsisten sebagaimana komitmen awalnya dulu waktu dicanangkan. Salah satu indikator adalah masih tingginya angka S/C sebagaimana ulasan pada tulisan terdahulu

Dalam praktisi IB selama ini kita kenal adalah konsentrasi atau jumlah sel spermatozoa dalam tiap kemasan straw adalah 25 juta sel. Dengan kontrol post thawing motility (PTM) standar nasional Indonesia (SNI) ≥40%, berarti tidak kurang dari 10 juta sel spermatozoa yang hidup. Sementara itu hanya satu sel saja yang diperlukan untuk membuahi satu sel telur agar terjadi kebuntingan dalam satu rangkaian siklus reproduksi. Ini berarti bahwa sekian juta sel spermatozoa atau sel benih lainnya mati sia-sia terserap tubuh atau entah kemana.

Seharusnya ini sudah harus difikirkan, terbuanganya sumber daya alami calon kehidupan untuk regenerasi atau renewable. Teori yang dikenal selama ini bahwa penempatan sel benih spermatozoa dalam saluran reproduksi sapi betina akeptor adalah pada posisi 1, 2, 3 atau 4 mengacu pada ring tulang rawan dalam canalis cervicalis uterus. Salah satu alasan adalah sel spermatozoa memerlukan tenggang waktu untuk menjalani kapasitasi sebelum menembus zona pelusida dan zona vitelina menemui inti sel telur dalam proses pembuahan (fertilisasi) yang sebenarnya.

Waktu yang ditempuh dalam perjalanan dari canalis cervicalis uterus sampai tempat pembuahan di ampula tuba falopii itulah yang selama ini diyakini sebagai waktu terjadinya kapasitasi tersebut. Selama ini hanya dipahami bahwa kapasitasi adalah suatu proses fisis gesekan sel spermatozoa dengan selaput lendir mukosa endometrium uterus.

Dari referensi yang ada dan mungkin terbaru saat ini bersumber dari materi kuliah pascasarjana biologi reproduksi (tidak dipublikasi) tentang teori kapasitasi dapat disimpulkan: ”Bahwa kapasitasi merupakan proses ‘pematangan’ spermatozoa yang meliputi perubahan-perubahan fisiologis (dinamika seluler) spermatozoa sehingga dihasilkan sel spermatozoa yang mampu membuahi sel telur (oosit, ovum). Selain perubahan fisiologis yang meliputi metabolisme, sistem ionisasi, membran plasma dan sel inti terdapat perubahan fisis dalam akrosom (tudung kepala spermatozoa) meningkat ukurannya selama kapasitasi tersebut.

Penelitian lain mengatakan bahwa kapasitasi meliputi juga reaksi akrosom, sementara peneliti lainnya lagi menyatakan bahwa kapasitasi dan reaksi akrosom adalah dua fenomena alam yang terpisah tetapi saling berkaitan. Dengan demikian perubahan fisiologis dinamika seluler spermatozoa selama kapasitasi masih mungkin terus berkembang seiring dengan perkembangan ilmu terutama bioteknologi reproduksi.

Mengacu pada proses fertilisasi in vitro (FIV) bahwa spermatozoa yang berasal dari post thawing semen beku perlu menjalani persiapan atau kapasitasi dengan berbagai perlakuan. Antara lain penambahan media tertentu, inkubasi 5% CO2 antara 5-8 jam dan 8-18 jam pada suhu 38,5°C serta sentrifuse pada 2100 rpm selama 10 menit dan 1800 rpm selama 5 menit. Setelah itu spermatozoa dipertemukan (fertilisasi) dengan sel telur oosit maturasi ‘face to face’ dalam suatu cawan petridish atau tabung. Sehingga terdapat istilah populer ‘bayi tabung’, terutama di kalangan FIV pada manusia. Mengingat bahwa kapasitasi dapat dilakukan di dalam laboratorium sebagaimana FIV, maka perlu pemahaman pemikiran secara progresif revolusioner bahwa harus terdapat spermatozoa kapasitasi dalam kemasan semen beku yang ada selama ini.

Lebih dari itu mengingat pula bahwa fertilisasi dapat terlaksana lebih dekat (setelah spermatozoa mengalami kapastasi), maka perlu mendekatkan posisi IB dari 1, 2, 3 atau 4 menjadi posisi 8. Sebagai konsekuensi dari revolusi bioteknologi reproduksi IB ini, maka perangkat seleksi akseptor juga harus mengikuti memyesuaikan diri. Selama ini perangkat seleksi itu adalah TLVLE, maka sebagai tambahan perangkat seleksi itu adalah keberadaan folikel de Graf. Sebagai acuan bahwa posisi untuk menempatkan spermatozoa kapasitasi pada posisi 8 harus ipsilateral dengan folikel de Graf yang akan mengeluarkan sel telur dalam pengertian ovulasi.

Selama ini atau sejak dicanangkan IB puluhan tahun silam, terdapat semacam suatu aturan main yaitu tidak dianjurkan meraba (palpasi per-rektal) terhadap keberadaan folikel de Graf. Karena adanya kekawatiran akan memecahkan folikel de Graf sebelum waktunya sehingga akan merancukan waktu terjadinya ovulasi. Tetapi dengan kinerja dan etos kerja yang profesional dan proporsional, kekhawatiran yang berlebihan itu harusnya dapat terhindarkan. Kalaupun masih terdapat kekhawatiran, maka dengan perabaan palpasi per-rektal sepintas sudah dapat menentukan keberadaan folikel de Graf, yaitu mengacu pada ukuran ovarium yang aktif (tempat folikel de Graf) umumnya berukuran lebih besar daripada yang inaktif.

Sebagaimana diketahui bahwa posisi 8 adalah merupakan posisi yang paling ideal untuk menempatkan benih berupa sel embrio dalam mekanisme transfer embrio (TE). Sehingga seandainya pada suatu saat nanti revolusi bioteknologi reproduksi IB dengan menempatkan benih yang berupa sel spermaozoa ini dapat tercapai. Maka di masa mendatang cukup satu alat gun saja dapat dipakai untuk keperluan IB dan atau, maupun TE.

Lebih dari itu mengingat bahwa posisi IB semakin dekat dengan tempat fertilisasi dan spermatozoa telah dikapasitasi. Maka dapat dihipotesa bahwa jumlah atau konsentrasi spermatozoa dalam kemasan straw perlu secara bertahap diturunkan semakin sedikit. Ingat bahwa hanya satu sel spermatozoa saja yang diperlukan untuk fertilisasi terhadap satu sel telur dari sapi akseptor. Seandainya suatu saat nanti dapat berhasil menurunkan konsentrasi sel spermatozoa dalam kemasan straw semen beku misalnya 1 juta sel hidup, maka akan diperoleh efisiensi 10 kali lipatnya. Apalagi semakin kecil konsentrasi akan semakin besar nilai efisiensi antara lain semakin sdikit jumlah dalam pemeliharaan sapi pejantan penghasil spermatozoa.

Catatan : Posisi 1 s/d 4 dalam canalis cervicalis uterus, posisi 5 dalam cavum uterus, posisi 6 dalam simpang kiri/kanan biforcatio uterus, posisi 7 dalam pertengahan lumen cornu uterus dan posisi 8 dalam lumen apex cornu uterus

TLVLE : TL=tingkah laku birahi (jumping heat, standing heat), V=vulva (3a, abang abuh anget), L=lendir (jernih pekat seperti putih telur)dan E =ereksi (ketegangan cervic uterus per-rektal)

drh. M. Arifin Basyir (arifin_basyir@yahoo.com)

Filed in: Artikel Member Tags: , ,

Get Updates

Share This Post

Related Posts

Leave a Reply

Submit Comment

© 2014 Vet-Indo. All rights reserved.
Designed by Theme Junkie. Busana Muslim