0

Memantau dan Mengendalikan Penyebaran Penyakit Brucellosis di Pulau Sumbawa, NTB

Brucellosis adalah penyakit reproduksi yang secara primer menyerang ruminansia sapi, kambing, babi dan sekunder berbagai jenis ternak lainnya serta manusia yang disebabkan oleh kuman Brucella sp, pada sapi penyakit ini dikenal sebagai penyakit keluron atau penyakit Bang. Brucellosis merupakan penyakit yang beresiko sangat tinggi, kerugian ekonomi yang diakibatkan oleh Brucellosis sangat besar, sebab penyakit ini dapat menular dari ternak ke manusia dan sulit diobati, sehingga Brucellosis merupakan zoonosis yang penting, tetapi manusia dapat mengkonsumsi daging dari ternak-ternak yang tertular sebab tidak berbahaya apabila tindakan sanitasi minimum dipatuhi dan dagingnya dimasak dengan matang, demikian pula dengan air susu dapat pula dikonsumsi tetapi harus dimasak atau dipasteurisasi terlebih dahulu.

Pada ternak ruminasia seperti sapi, kerugian dapat berupa keluron, selain itu kuman Brucella dapat menyebabkan anak ternak yang dilahirkan lemah, kemudian mati, terjadi gangguan alat-alat reproduksi yang mengakibatkan kemandulan/kemajiran yang bersifat sementara maupun permanen, turunnya produksi air susu (pada sapi perah).

Brusellosis dapat ditularkan melalui kontak langsung dengan kotoran hewan atau produk abortus yang mengandung kuman Brucella, penularannya dapat pula terjadi karena tidak menggunakan peralatan yang inseminasi buatan yang tercemar, tidak menjaga dan memperketat pengawasan lalu lintas ternak masuk yang berasal dari daerah tertular, tidak menerapkan pola test dan slaughter sehingga dapat memperluas penyebaran penyakitnya, meminum susu sapi atau kambing yang tidak dipasteurisasi, mengkonsumsi hasil olahan susu (mentega dan keju) yang mengadung bakteri hidup.

Sedangkan untuk penularan dari manusia ke manusia penyakit ini jarang terjadi. Dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 15 tahun 1977 Tentang Penolakan, Pencegahan, Pemberantasan Dan Pengobatan Penyakit Hewan disebutkan bahwa ternak sebagai sumber produksi untuk mencukupi kebutuhan manusia akan protein hewani merupakan salah satu bahan produksi untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat, kemakmuran serta kesejahteraan bangsa dan negara, perlu dipelihara kelestariannya dan dikembangkan sebaik-baiknya, bahwa usaha pemeliharaan dan peningkatan perkembangan hewan perlu dilindungi dari kerugian yang dapat ditimbulkan oleh berbagai macam penyakit hewan serta adanya penyakit yang dapat berpindah dari hewan kepada manusia, bahwa atas dasar hal tersebut, maka usaha penolakan, pencegahan, pemberantasan, dan pengobatan penyakit hewan perlu dilakukan secara seksama dan diatur dengan sebaik-baiknya.

Sehingga dalam usaha mengendalikan penyakit Brucellosis ada beberapa hal yang perlu dilakukan yaitu dengan mengamati gejala klinis pada sapi betina yang diduga menderita Brucellosis, seperti pada sapi dara bunting pertama mengalami keguguran pada usia kebuntingan 5-7 bulan, sapi betina dewasa produktif mengalami keguguran pada usia 5-7 bulan, sapi betina dewasa pernah diketahui mengalami keguguran pada usia kebuntingan 5-7 bulan dan setelah dilakukan 3-4 kali inseminasi buatan belum bunting lagi, sapi jantan lainnya pada kelompok ternak tertentu yang menderita orkiditis dan atau epididimitis. Penentuan cutting point (nilai ambang) perlu berhati-hati karena apabila posiif palsunya lebih banyak maka ini akan merugikan peternak (Siregar, 2000). Apabila negatif palsunya lebih banyak maka akan menghambat usaha pemberantasan Brucellosis (Siregar, 2000). Tidak ada pengobatan yang spesifik untuk penyakit Brucellosis, hanya pencegahan dengan melakukan vaksinasi yang dapat dilakukan terutama pada anak sapi betina muda umur 3-10 bulan atau lebih dengan harapan pada saat pemotongan serologik mereka telah negatif.

Program vaksinasi diharapkan mampu menekan penyebaran Brucellosis dilapangan, kemudian dilakukan evaluasi dengan pengambilan sampel serum yang lebih terorganisir dan berkala agar dapat diketahui prevalensi perkecamatan / per desa dengan pasti, sampel serum diuji secara bertahap dengan Rose Bengal Presipitation Test (RBPT) atau (screening test) sebagai uji saring untuk menentukan kuantitasnya dan bila pada uji RBT hasilnya negatif, maka harus tetap dilakukan uji ulang 3 bulan kemudian, apabila hasil uji RBT diperoleh hasil yang positif, maka dapat dilanjutkan dengan uji Complement Fixation Test (CFT) sebagai uji konfirmasi untuk menentukan kualitasnya (Anonimus 1, 2004). Bila CFT ternyata negatif, sapi tersebut dianggap bebas penyakit. Bila CFT positif, maka sapi tersebut dikeluarkan dari kandang/ kelompok sapi untuk dipotong. Kandang didesinfeksi agar dapat mengurangi kemungkinan penularan pada sapi lainnya.

Hasil yang positif pada uji Screening ditandai dengan adanya pembentukan aglutinasi secara sempurna, dan hasil yang negatif tidak terjadi pembentukan aglutinasi. Pada uji RBT dapat juga terjadi posisif palsu karena beberapa alasan diantaranya, karena adanya titer antibody yang persisten setelah vaksinasi dan ini sering terjadi dilapangan, karena biasa menggunakan alat suntik untuk vaksinasi S19 dengan vaksinasi lain atau untuk keperluan pengobatan, karena alat suntik yang mengandung S19 sulit disterilkan pada kondisi lapangan. Sedangkan reaksi positif pada uji CFT tidak dapat membedakan antara hewan yang telah divaksin atau dengan akibat infeksi alam, karena uji CFT pada umumnya hanya untuk mendeteksi adanya immunoglobulin, terutama immunoglobulin (IgG1) juga sedikit IgM, karena immunoglobulin dapat menginaktifkan dan mengeliminasi antigen dengan jalan mengikatnya, sehingga mengakibatkan aglutinasi, atau aglutinasi terjadi karena adanya ikatan komplemen antara antigen dengan immunoglobulin serum.

Reaksi awal dari ikatan komplemen karena adanya kepekaan antigen terhadap reaksi fagositosis, sehingga menyebabkan sel menghancurkan diri (lysis) (Anonimus 2, 2000). Antibodi merupakan serum protein yang dihasilkan oleh sel limfosit sebagai respons terhadap infeksi atau vaksinasi (Anonimus 2, 2000), tidak diketahui dengan pasti apakah antibodi yang dimiliki ini berasal dari infeksi alam ataukah hasil vaksinasi, karena banyak serum yang positif berasal dari ternak yang berumur kurang dari 3 tahun yang kemungkinan pernah mendapatkan vaksinasi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sapi umur 1-12 bulan masih bereaksi positif hingga 16 bulan setelah vaksinasi dan sapi umur lebih dari 12 bulan bereaksi positif sampai 36 bulan setelah vaksinasi. Sementara itu uji serologis yang kita miliki belum bisa membedakan antara antibodi hasil vaksinasi dan akibat infeksi alam, sehingga guna mencegah terjadinya pemotongan reaktor yang keliru, perlu dilakukan identifikasi ternak secara akurat (misalnya data vaksinasi dan umur ternak).

Program vaksinasi tetap perlu dijalankan dan terus dievaluasi setiap tahun tiap desa/kecamatan, hal ini penting untuk menentukan langkah selanjutnya, sesuai dengan pola penanganan penyakit Brucellosis secara nasional untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan program tersebut terhadap penurunan jumlah reaktor. Dan sesuai dengan amanat pemerintah Propinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang mengunggulkan program Bumi Sejuta Sapi (BSS) untuk mendukung Program Percepatan Pencapaian Swasembada Daging Sapi (PSDS) juga yang dicanangkan pemerintah pusat pada tahun 2014. Karena tidak ada yang bisa menjamin suatu daerah akan bebas 100% dan bersih dari penyakit Brucellosis, banyak faktor yang harus diperhatikan dan dipertanyakan, dan siapa sebenarnya yang punya tanggungjawab? Pengkajian demi pengkajian telah banyak dan sering dilakukan, ketidakkompakan selisih pemahaman secara teoritik, politik, kepentingan dan pengamatan serta pengalaman mengaburkan nilai-nilai luhur keikhlasan membebaskan diri dari penyakit Brucellosis, hanya bisa kita kembalikan pada tujuan kita masing-masin, dan yang lebih utama adalah Kesiapsiagaan dan koordinasi intensif Pemerintah Daerah khususnya Dinas Pertanian, Peternakan, Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner, serta didukung oleh kegiatan-kegiatan rutin tahunan Karantina Pertanian di Daerah diharapkan dapat mempertahankan pulau Sumbawa tetap bebas dari penyakit-penyakit hewan zoonosis khusunya penyakit Brucellosis.

Kita harus tahu, kalo ada rasa yang saling membutuhkan, saling memiliki, sama sadar sama waras, rasa sama duduk sama berdiri, sama lantang sama tegas, sama belajar sama berilmu, pasti penyakit Brucellosis akan berada sejauh mata memandang, kesejahteraan peternakan dan tujuan serta program pemerintah pasti tercapai.

Oleh : Drh. Amirullah (Pegawai Kementrian Pertanian, Badan Karantina Pertanian, Stasiun Karantina Pertanian (SKP) Kelas I Sumbawa Besar) 

Filed in: Berita Umum Tags: , ,

Get Updates

Share This Post

Recent Posts

Leave a Reply

Submit Comment

© 4153 Vet-Indo. All rights reserved.
Designed by Theme Junkie. Busana Muslim