Select Language:
Home arrow Berita arrow Artikel Member arrow Merintis Bisnis Pembentukan Sapi Komposit secara Komersial dengan Profesionalisme yang Proporsional
  • Join Our Community
  • Join Our Community
  • Join Our Community
Merintis Bisnis Pembentukan Sapi Komposit secara Komersial dengan Profesionalisme yang Proporsional E-mail
(1 vote)
Ditulis Oleh drh. M. Arifin Basyir   
Selasa, 05 Mei 2009
Sungguh mencengangkan, kalau tidak boleh disebut memprihatinkan bahwa ternyata dalam perjalanan bioteknologi reproduksi generasi pertama yang bernama insemenasi buatan (IB) yang sudah ditekuni selama sekian puluh tahun, kiranya belum menunjukkan prestasi yang menggembirakan. Sebut saja antara lain keberadaan dan pengendalian penyakit reproduksi pada sapi bibit, belum tertatanya program breeding dalam industri persapian (dibandingkan dengan industri perunggasan). Lebih dari itu adanya indikasi ke arah kegagalan meraih program swasembada daging yang telah lama dicanangkan. Oleh karena itu jangan banyak berharap bagaimana perjalanan bioteknologi reproduksi generasi kedua ini yang bernama transfer embrio (TE) yang sudah sekian belas tahun, sejak dicanangkan pada awal dekade tahun 1990-an. Mampukah melanjutkan, mewujudkan mimpi bioteknologi reproduksi generasi selanjutnya?

Salah satu indikator keberhasilan IB selama ini sebagai acuan adalah angka pelayanan untuk memperoleh satu kali kebuntingan (service per conception, S/C) yang dalam aturan mainnya seharusnya S/C=1. Artinya satu kali pelayanan menggunakan satu dosis straw semen beku, harus berhasil membuntingkan satu ekor sapi betina. Namun kenyataan menunjukkan bahwa S/C rata-rata 3,34; sebagaimana dikutip Imas Sri Nurhayati, dkk (Puslitbangnak, 2008). ”Upaya peningkatan produksi dan populasi sapi perah di masyarakat melalui program IB masih menemui berbagai masalah, diantaranya angka kebuntingan (CR) sangat bervariasi antara 7,46-71,25%; angka pelayanan per kebuntingan S/C antara 1,17-5,51 kali (Ditjennak,1997) serta calving interval (CI)>18 bulan.

Bahkan hasil pengukuran indikator reproduksi di lima propinsi (Sumbar, Lampung, Jabar, DIY, NTB) menunjukkan bahwa nilai angka rata-rata non return rate (NRR) sebagai indikator adanya awal kebuntingan 74,49% (Dwiyanto, dkk, 1998). Alih-alih mencapai S/C=1, merubah paradigma pemahaman yang terasa "kurang sempurna" tentang S/C selama ini belum terjadi. Setelah berjalan sekian puluh tahun seharusnya pengertian S/C adalah service per calving, bukan lagi service per conception. Demikian juga CR harus diartikan calving rate, bukan conception rate. Apalah artinya terjadi kebuntingan pada sapi, kalau tidak berlanjut terlahirnya pedet hidup dan sehat?

Banyak kendala yang menghadang mulai dari pembuahan (fertilisasi) sebagai awal terjadinya proses kebuntingan dan kelahiran, antara lain adalah penyakit reproduksi penyebab keguguran. Dalam persaratan sebagai sapi bibit minimal harus bebas 11 macam penyakit bakterial, viral maupun parasiter (Bruselosis, Leptospirosis, Tuberculosis, Vibriosis, BVD, EBL, IBR-IPV♀/IPB♂, Anaplasmosis, Bebesiosis, Theleriosis dan Trichomonosis). Dari kesebelasan macam penyakit tersebut 8 diantaranya (selain 3 penyakit yang disebut terakhir) dapat menular melalui mekanisme penerapan bioteknologi reproduksi (IB dan TE) yang tidak profesional.

Penyakit lain yang dapat menumpang menular melalui biotekrepro IB dan TE adalah PMK, rinder pest, bovine parvo virus, bovine vesicular stomatitis dan mikoplasma (acuan : OIE sebagaimana dikutif Sofyan Sudarjat, 199x). Hal ini menunjukkan bahwa profesionalisme sumber daya manusia yang berhubungan dengan proses kebuntingan dan kelahiran belum proporsional, baik itu di tingkat produksi semen beku maupun di tingkat lapangan yang berhubungan dengan akseptor. Sebagaimana signalemen referensi tersebut diatas bahwa "nilai produktivitas ternak" dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya kualitas semen dan kemampuan petugas atau sumber daya manusianya.

Bukan tidak mungkin semen beku sudah tertular penyakit reproduksi, sehingga janin gugur dalam masa kebuntingan atau sebelum dilahirkan. Hal ini mengacu pada salah satu referensi lain: ”Dari sekian banyak penyakit yang harus bebas di UPT Perbibitan Ditjennak yang menjadi perhatian baru IBR dan BVD. Dari data yang disimpulkan bahwa penyakit IBR telah berjangkit / menular di UPT Perbibitan pemerintah pusat atau milik Ditjen Peternakan (Sudarisman. 2008. Babelitvet)”.

Terlepas diakui atau tidak dan dipublikasikan atau tidak, artinya bukan tidak mungkin lebih dari satu penyakit yang sudah merambah UPT Perbibitan Ditjennak. Perlu penelitian independen untuk mengungkap hal ini. Mampukah institusi produsen semen beku membuktikan diri sebagai institusi yang bebas penyakit, minimal specific phatogenic free (SPF) terhadap penyakit yang berdampak pada sistem reproduksi ?

Dalam merintis bisnis sapi komposit komersial ini dituntut adanya profesionalisme yang proporsional, dimulai dari SDM yang berhubungan dengan akseptor. Antara lain profesional dalam seleksi akseptor dan menjalankan IB secara lege artis untuk mencapai S/C=1 (service per calving), dengan memberlakukan konsep reward and punishment. Pengertiannya adalah setiap straw semen beku yang dipakai IB harus menghasilkan satu ekor pedet. Sehingga kalau misalnya seorang peserta kontrak dengan 100 straw semen beku, dapat menghasilkan 100 ekor pedet sebagai reward dibebaskan dari biaya pembelian straw. Sebaliknya apabila misalnya hanya mampu menghasilkan 60 ekor pedet, maka sebagai punishment peserta diwajibkan membayar sejumlah harga 40 straw semen beku yang diperhitungkan pada saat panen pembelian pedet nanti. Kalau di kemudian hari terbukti bahwa semen beku produksi dalam negeri tidak dapat diandalkan kwalitasnya setelah melalui pengujian laboratorium maupun lapangan, maka akan dipertimbangkan memakai semen beku impor.

Karena itu diharapkan bahwa profesionalisme juga terbentuk di tingkat produsen semen beku, kalau tidak mau ambil resiko ditinggalkan oleh pelanggannya dalam persaingan bisnis pada era perdagangan bebas dan era globalisasi sekarang ini. Termasuk bisnis dalam industri persapian, mengingat telah ada Semiloka Nasional Prospek Industri Sapi Perah Menuju Perdagangan Bebas pada tahun 2020, pada bulan April 2008 yang sebagian prosidingnya menjadi acuan dalam tulisan ini.

Mari kita sambut dengan merintis bisnis sapi komposit secara komersial, profesional, proporsional serta konsekuen dan konsisten pada masing-masing sumber daya manusianya. Jangan pernah sekalipun menyalahkan sapinya, bagaimanapun juga baik buruknya sapi berada dalam kendali manusia. Untuk info lebih lanjut segera hubungi : Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya

drh. M. Arifin Basyir





Facebook!Yahoo!
Berita Terkait
Berita Lebih Baru
Berita Lebih Lama
Comments
Add NewSearch
Silakan Login Untuk Menulis Komentar

Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved.

 
< Sebelumnya   Berikutnya >
 Andi Yekti Widodo
 Dyah Setyawaty
 Hermawan prihatno
 feli apriyanti
 Ary Susanti
 BAMBANG EDY NOVIANTO
 drh harwanto
 Hamria Syamsul
 arif setyonarutomo
 anjar wigianto
 moigariacix moigariacix
 Rudi Harso Nugroho
 Indra Lesmana
 Paramita Diana
 achoiro wati rasid
 ahmad syazali ahmad syazali
 Harisman Sopandi
 kris ws
 Revan Maulana
 aracle -
 Drh Lani Suryaningsih
 drh.Jaden.P.Sidadolog Sidadolog
 Data Putra
 Oki Komara

Featured Video




More on Vet Videos...

Find Us On Facebook

Berlangganan


Masukkan Alamat Email Anda:


Jurnal Terbaru

Keberhasilan reproduksi akan sangat mendukung peningkatan populasi sapi potong. Namun kondisi sap...

Tatalaksana perkandangan merupakan salah satu faktor produksi yang belum mendapat perhatian dalam...

Dalam rangka menghadapai swasembada daging sapi tahun 2010 diperlukan peningkatan populasi sapi p...

Who's Online

Saat ini ada 10 tamu online
free 
website hit counter