Select Language:
Home arrow Berita arrow Berita Umum arrow Cerita Dokter Hewan Indonesia di Perbatasan India Pakistan
  • Join Our Community
  • Join Our Community
  • Join Our Community
Cerita Dokter Hewan Indonesia di Perbatasan India Pakistan E-mail
(6 votes)
Ditulis Oleh Heru S Prabowo   
Kamis, 03 Juli 2008
Sesama Rangers meskipun berbeda negara, mereka akan berkomunikasi, negosiasi bagaimana mengeluarkan kerbau Pakistan yang masuk wilayah India. Rangers India akan menghalau kerbau keluar, sedangkan Rangers Pakistan akan menunggu di garis batas sampai kerbaunya keluar dari wilayah India.

Ini salah satu pengalaman saya selama di Pakistan. Pengalaman melakukan pekerjaan di perbatasan negara mempunyai perspektif lain bila dibandingkan dengan di lokasi yang biasa.

Kent, New Zealander yang bertanggung jawab di community farm meminta saya melihat salah satu lokasi yang akan dijadikan community farm. Dia minta saya melakukan assessment farm itu dari sudut pandang animal health dan reproduksi dan meminta masukan apa yang perlu dilakukan untuk menjadikannya lebih baik. Saya menanyakan dimana lokasi farm tersebut. Dia bilang di desa Sarja Marja, dipinggiran Lahore. Dekat perbatasan India. Wow.. Sayapun menyanggupi datang ke Sarja Marja pagi harinya karena sorenya harus terbang ke Karachi untuk kerjaan yang lain.

Lokasinya memang di Lahore, tapi benar-benar pinggiran. Lumayan terpencil, jauh dari desa yang lain, seperti desa yang terisolasi. Begitu datang ke lokasi, ke kandang sapi dan kerbau, saya lihat kok tidak ada ternaknya. Saya bertanya ke salah satu penduduk, lewat sopir saya, pada kemana sapi dan kerbaunya? Kemudian dia mempertemukan saya dengan orang yang dianggap ketua kelompok peternak, namanya Butha. Dia mengatakan kalau kerbau dan sapinya sedang merumput, grazing di lokasi lain. Diapun menunjukkan lokasinya dan kita menuju lokasi. Lumayan jauh juga dari desa. Harus melewati jalanan berliku dan naik turun. Karena dekat perbatasan, masing-masing sisi negara dijaga oleh paramiliter yang terkenal dengan sebutan Rangers. Ada Rangers disisi Pakistan dan disisi India.

Saat akan masuk ke lokasi grazing, Butha harus lapor dulu ke Rangers. Saya menunggu di mobil. Setelah dapat ijin, kita menuju ke lokasi grazing. Bayangan saya lokasi grazingnya adalah padang rumput hijau, penuh rumput seperti di New Zealand. Ternyata hanyalah sawah bekas ditanami gandum yang telah dipanen. Kering, coklat dan panas karena mulai summer. Saya lihat kerbau yang grazing hanya jalan-jalan saja karena tidak ada rumput yang bisa dimakan. Lokasi grazing yang dipakai hanya berjarak 10 meter dari garis batas India Pakistan. Ya, benar... hanya 10 meter!

Dari sisi Pakistan, saya bisa melihat dengan jelas Rangers India yang menenteng senjata patroli sambil mengawasi kita. Garis batas India Pakistan di Sarja Marja ini hanya berupa patokan semen cor setinggi 50 cm bercat putih sepanjang perbatasan. Namun India membuat pagar kawat berduri dobel, sekitar 50 meter didalam wilayahnya sendiri. Sehingga, meskipun Rangers India diluar kawat berduri , mereka masih 50 meter berada di wilayah India. Itulah sebabnya dari jauh mereka seperti sudah masuk wilayah Pakistan karena diluar kawat berduri, namun sebetulnya masih di wilayahnya sendiri. Pinter juga India ya?

Nah, kerbau yang grazing tadi menyusuri sawah gandum disekitar perbatasan tersebut. Tak jarang, karena hanya berbataskan patok semen 50 cm tanpa pagar, kerbau-kerbau tadi menyeberang ke wilayah India yang diluar kawat berduri. Nah kalau kerbau tadi sudah masuk wilayah India, Butha, biasanya menghubungi Rangers Pakistan yang markasnya hanya beberapa puluh meter. Sesama Rangers meskipun berbeda Negara, mereka akan berkomunikasi, negosiasi bagaimana mengeluarkan kerbau Pakistan yang masuk wilayah India. Rangers India akan menghalau kerbau keluar, sedangkan Rangers Pakistan akan menunggu di garis batas sampai kerbaunya keluar dari wilayah India. Ketika saya diberitahu prosedur ini, saya tidak bisa menahan geli. Urusan kerbau saja sampai menyentuh hubungan diplomatik kedua negara. Ini sebenarnya seperti kalau kita bicara masalah perbatasan Malang-Blitar atau Malang-Pasuruan. Kita mending, batas daerah kadang dipisahkan oleh sungai atau jalan dan melintasi perbatasan-pun tidak ada masalah. Lha ini, batas dua negara tidak ada sungai atau jalan atau apa, hanya patok semen 50 cm tanpa pagar, kalau melintasi urusannyapun bisa serius, bisa ditembak ditempat oleh Rangers masing-masing negara.

Selesai melihat lokasi, ngobrol dengan peternak, sayapun memberikan beberapa rekomendasi kepada Kent, apa yang perlu dilakukan. Tidak perlu diceritakan kalau yang itu, tidak menarik. Beberapa minggu berikutnya, Kent mengajak saya lagi melakukan field day, kayak semacam kumpul-kumpul peternak, kita memberi informasi mengenai peternakan yang basic saja. Pada field day itu kita memberi penyuluhan tentang mastitis, kemudian amoniasi jerami gandum, metode kontrol pinjal dan lalat.

Pinjal di Pakistan kalau musim panas merajalela. Kalau sudah parah ngerubungi, nyedot darahnya ternak, kelihatan nggilani, terutama di leher, telinga, selangkangan kaki belakang, bokong dan perineum, semuanya penuh pinjal. Kalau sudah gitu ternaknya kelihatan pucat. Gimana nggak pucat wong darahnya disedot ribuan pinjal. Kadang sampai mati ngenes kalau nggak ketolong. Lalat juga begitu, kalau sudah tidak terkontrol, jumlahnya bisa jutaan di satu farm. Makanya metode kontrolnya kita berikan ke peternak. Karena desa ini tergolong terpencil, jauh dari keramaian, terus dikunjungi orang asing, bule lagi (saya termasuk bule nggak ya?) terus membantu peternak, ada dokter hewannya, gratis lagi, wuihhh... yang datang minta ampun banyaknya.

Belum selesai acara penyuluhannya, karena mereka tahu saya dokter hewan dan tahu kalau gratis, saya ditarik kemana-mana buat ngecek dan ngobati ternak yang sakit. Setelah peternak ini selesai, ganti yang itu, ganti yang lain lagi. Sampai kewalahan melayaninya. Hampir semuanya masalah basic dairy yang tidak mengena. Kurang air, pedet tidak higyene tempat tinggalnya, dan lain-lain. Setelah acara selesai, ada orang yang mendekati saya, ngomong bahasa Urdu yang saya tidak mengerti maksudnya, kemudian diberi tahu oleh staf extension, dia bilang minta tolong mengobati kudanya yang sakit di desa sebelah. Wuihh kuda? Lha saya bekerja di Dairy Pakistan, ngubek-ubek masalah susu, lha kok ini ada yang minta tolong ngobati kuda. Gimana ini?

Saya secara halus menolaknya dengan alasan waktunya sudah sore, memang sudah maghrib, tapi karena memintanya dengan memelas, akhirnya saya kasihan juga. Akhirnya kita janjikan akan mampir ke desanya dalam perjalanan pulang. Benar, dia menunggu di depan rumah saat rombongan kita lewat. Lha yang ikut menunggu juga satu kampung keluar semua. Buuuanyak sampai jalannya tertutup. Kita berhenti dan menengok kudanya, ternyata kolik. Sama juga seperti pemiliknya, kudanya terlihat ngenes. Setelah melakukan pengobatan kuda dan mau pulang, ada ibu-ibu tua yang meminta saya ngecek kerbaunya karena diare. Waduh…. Padahal hari sudah mulai gelap saat itu. Saya menolaknya halus dengan alasan sudah gelap, tapi dengan wajah melasnya akhirnya saya kasihan juga. Kent juga bilang OK, akhirnya juga ngecek dan ngobati kerbau yang diare. Saya memang nggak tegaan kalau lihat yang melas-melas gitu. Selesai dirumah ibu tadi, yang ngerubungi masih banyak, sampai mobil mau lewat saja harus pelan-pelan.

Di mobil Kent bilang, “Heru, you are the legend….” Ya legenda dari Kepanjen, dalam hati saya he..he..he.. Kalau ingat pengalaman ini, saya menyadari betapa dibutuhkannya profesi dokter hewan di desa-desa kecil seperti itu. Bukan saja di Pakistan, tapi saya yakin di Indonesia juga mirip seperti itu meskipun tidak separah itu. Dibalik rasa capek, saya bisa tersenyum lega karena telah membuat beberapa orang di perbatasan India Pakistan tersenyum karena ada yang memperhatikan ternaknya.

Lahore, 3 Juli 2008 Heru Prabowo, Pakistan Dairy Development Company





Facebook!Yahoo!
Berita Terkait
Berita Lebih Baru
Berita Lebih Lama
Comments
Add NewSearch
wahyuagung     | Super Administrator | 2008-07-11 05:31:55
avatar Heru, you are the legend
Setuju...
Senangnya denger cerita kalo dokter hewan Indonesia jadi hero di negeri orang..

Besok2 kirim foto dong Dok... biar kita bisa tau keadaan di sana yang penuh rangers.. sekalian poto2 kerbau pakistannya...
herusp   | Registered | 2008-07-15 08:58:26
avatar Bukan hero mas Agung, Heru.
Tak coba ngirim fotonya nanti ya. Per foto max cuma 100kb. Kecil sekali?
wahyuagung   | Super Administrator | 2008-07-15 09:04:27
avatar iya, Dok, maksud saya Dokter Heru jadi Hero di negeri orang...

fotonya dikirim email aja dok, ke info@vet-indo.com biar bisa gede, buat ditampilin bareng artikelnya...

makasih Dok..
herusp   | Registered | 2008-07-16 05:50:51
avatar Oke deh...nanti tak kirim ke alamat tersebut. Ada buanyak foto, tapi tak pilih yang mewakili dan menarik saja ya..
Thanks mas Agung.
dias   | Registered | 2008-07-17 00:54:59
salam...anyaran..
to heru, kok bisa ke pakistan-india gmn tuh..?bagi2 tips dong, pa tau ketularan..jadi kepingin...
to semua.met kenal ya ..
herusp   | Registered | 2008-07-17 08:39:08
avatar Salam juga diaz.
Wah...ceritanya panjang.
Tapi yang jelas tidak terjadi begitu saja, harus diusahakan, harus diperjuangkan. Awalnya dari mimpi, keinginan untuk selalu lebih baik sebagai dokter hewan. Juga bisa jadi bukti kan, bahwa dokter hewan produk lokal Indonesia ternyata juga bisa tuh diterima dipergaulan yang lebih luas. Semoga menginspirasi ya...
Silakan Login Untuk Menulis Komentar

Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved.

 
< Sebelumnya   Berikutnya >
 alfira fajriani
 siti istiana
 nimrah ilhan nimrah
 Drh. Dina Ferdianita
 didi nurhadi
 achoiro wati rasid
 Anggit Surindra
 venky valenti
 deddy rapen
 Abdul Haris
 Joshua Loh
 Shandy Maha Putra
 khrisna wahyu
 Dewi Larasati
 deny jaya triatma
 henny Pringadi
 deddy rapen
 Ayu Joesoef
 deny jaya triatma
 dedi kurniawan
 arif rahman
 Gold Coin HR
 Citra Nuranisa
 Ayu Setiawati

Featured Video




More on Vet Videos...

Find Us On Facebook

Berlangganan


Masukkan Alamat Email Anda:


Jurnal Terbaru

Keberhasilan reproduksi akan sangat mendukung peningkatan populasi sapi potong. Namun kondisi sap...

Tatalaksana perkandangan merupakan salah satu faktor produksi yang belum mendapat perhatian dalam...

Dalam rangka menghadapai swasembada daging sapi tahun 2010 diperlukan peningkatan populasi sapi p...

Who's Online

Saat ini ada 131 tamu online