|
Dear teman-teman semua.. Kayaknya sudah lama ya nggak cerita sesuatu tentang Pakistan. Saat saya menulis email ini, sedang berada di Abottabad, salah satu kota yang berada di Pakistan bagian utara. Ditengah antara Afghanistan dan Kashmir. Kalau winter, semua daerah ini ditutupi salju. Daerahnya berbukit-bukit. Kalau naik mobil menerus dari Lahore sekitar 8-9 jam ke utara. Saya bersama teman dari Australia, Jon Schultz, mengunjungi beberapa farm yang sedang dalam pengerjaan instalasi. Saya diminta membantu farmer yang mempunyai masalah dengan animal health, reproduksi dan farm manajemen yang lain.
Hari pertama kita mengunjungi farm yang berada di Swabi, sekitar 1 jam dari Peshawar, kota yang berbatasan langsung dengan Afghanistan. Orang-orang yang tinggal di NWFP berasal dari suku Pashtun atau mereka nyebut Pattan. Mereka sama persis dengan orang-orang yang tinggal di Afghanistan yang juga berasal dari suku Pashtun. Secara fisik mereka mempunyai kulit yang jauh lebih bersih dibanding Pakistani dari suku lain (Punjabi, Sindhi atau Balochist). Face feature mereka juga lebih bagus. Laki-laki dan perempuan lebih good looking. Pashtun terkenal sebagai pemeluk Islam yang sangat taat. Laki-laki disini mayoritas berjenggot panjang. Sulit melihat perempuan di tempat umum. Kalaupun terlihat, mereka kebanyakan memakai burka atau kain panjang yang menutupi seluruh badan dan wajah kecuali mata. Di salah satu farm yang kita kunjungi, peternak mempunyai sekitar 20 an sapi dan 30 an kerbau. Tuan tanah, tanahnya seluas 400 acres atau sekitar 150an hektar. Punya tanah segitu luas tetapi sapinya ceking-ceking, kurus, hanya tulang dibungkus kulit sama kentut saja kayaknya. BCSnya rata-rata 1.5-1.75 an. Kurus sekali. Punya banyak masalah kesehatan mulai sapinya sulit bangun, produksi rendah dan lain-lain. Gimana nggak kurus, setiap hari hanya dikasih makan jerami gandum yang gak ada apa-apanya, hanya serat, tanpa nutrisi. Saat saya keliling area farm, saya menemukan tanaman yang kayaknya gambarnya pernah saya lihat. Tapi dimana dan apa ya? Saya coba ingat-ingat… ternyata gambar daun itu di gambar lambangnya musik reggae, Bob Marley. Ternyata daun yang saya temui itu adalah ganja!! Mariyuana!! Saya pastikan ke teman Pakistan apakah ini mariyuana atau ganja, mereka bilang benar. Mereka nyebutnya "punk". Menariknya lagi mereka bilang bahwa "happy leaf" ini tumbuh liar dan banyak sekali di daerah tersebut. Saya coba kelilingi sekitar area farm, ternyata memang banyak sekali tanaman ganja tersebut dan tumbuh liar, kayak perdu di belakang dormitory Greenfields. Ya … perdu ganja. Saya masih penasaran dan coba tanya ke peternak, dia bilang mariyuana kayak gitu memang banyak tumbuh liar di sini tetapi katanya di Afghanistan jauh lebih banyak. Mereka malah nanam mariyuana kayak nanam tanaman yang bisa di panen. Jadi kebun ganja!! Saya mencoba menyadari bahwa sekarang ini saya hanya berada 1 jam dari Peshawar, perbatasan Pakistan-Afghanistan. Sekitar 6-7 jam dari Kabul, Afghanistan. Mungkin hal seperti ini adalah hal yang biasa. Saya mencoba membiasakan diri dengan hal ini. Tapi rasa bengong saya agak lama juga hilangnya. Hari berikutnya, bertemu dengan team leader dari NWFP. Namanya Asim, asli Peshawar. Orangnya good looking, confident dan nice guy. Juga punya kepribadian menarik dan tanggung jawab. Sebagai team leader dia punya leadership yang bagus. Hal yang saya sangat suka amati bila melihat seorang pemimpin suatu organisasi. Dia cerita bahwa barusan melewati terowongan di daerah di Swat dan beberapa jam setelahnya terowongan tersebut di bom! Untung dia beda waktu melewati terowongan tersebut. Swat adalah daerah yang indah di utara Pakistan. Daerahnya berbukit dan lembah dengan sungai di tengahnya. Orang nyebutnya Switzerland of Pakistan. Kalau winter tertutup salju. Saya belum pernah ke sana karena alasan keamanan, tetapi mereka yang pernah kesana memang bilang kalau daerahnya beautiful. Banyak "milisi" di Swat. Ada yang bilang mereka itu Taliban, intel India atau orang-orangnya Musharraf yang memang bertugas memelihara instabilitas di daerah tersebut. Who knows? Asim bilang sekarang kemanapun bertugas selalu membawa pistol dengan 50an peluru. Hanya untuk jaga-jaga saja. Tapi saya juga tidak tahu, bila kepepet apakah dia berani menembak orang atau tidak. Jangan-jangan mau nembak kaki kena kepala nanti. Asim ini tugasnya mengkoordinir semua kegiatan di seluruh NWFP. Saya juga ketemu FPA (farm production adviser) yang sebelumnya bertugas di Swat valley, namanya Shiddiq. Karena alasan keamanan sekarang dia diperbantukan di Peshawar karena tidak ada yang bisa dilakukan selama peluru berdesingan di Swat atau bom meledak dimana-mana. Saya nginep di hotel di kota namanya Mardan. Sekitar Peshawar juga. Saat check in saya ditanya dari mana. Saya bilang dari Indonesia. Dia bilang, "Suharto..Suharto… he is a good man…" Saya bilang, "He is finished now". Saya nggak mau komentar tentang Suharto is a good man. Hari ketiga saya ke Abottabad. Saat di Lahore suhunya 35 C, saya harus pakai sweater di Abottabad. Daerahnya ada di ketinggian 1200an meter DPL. Cukup tinggi untuk ukuran Pakistan. Greenfields sekitar 1600an kalau tidak salah. Saat mengunjungi salah satu farm, Jon ngecek instalasi farm yang baru dibangun, sedang saya ngecek sapi dan kerbaunya apakah ada hal yang bisa diimprove. FPA yang bertanggung jawab didaerah ini namanya Abdullah. Dia lulusan Animal Husbandry Universitas Peshawar, Master Animal Nutrition lulusan Universitas Hyderabad dan dokter hewan dari Lahore University. Staf lokal Pakistan yang bekerja di PDDC bukan main-main. Semua sarjana dan tidak sedikit yang MPhil, PhD, MSc, dan beberapa gelar S2 dan S3 lainnya. Saya hanya dokter hewan, itupun gelarnya nggak saya cantumkan di business card saya… Ada anak kerbau berumur sekitar 3 minggu yang punya masalah hernia. Usus halus yang keluar lewat lubang di umbilical cord sehingga di perutnya ada benjolan yang makin lama makin besar. Kita diskusikan untuk operasi tetapi ada beberapa obat dan alat yang perlu dibeli. Peternak juga setuju untuk di operasi. Kita putuskan untuk melakukan operasi, tetapi ada beberapa alat dan obat yang kita perlukan belum tersedia seperti: Xylazine buat penenang, benang cat gut dan silk untuk jahit luka, scalpel blade. Alat yang lain sudah tool box saya. Akhirnya kita menuju kota terdekat di Haripur mencari alat tersebut. Kotanya kecil tetapi jalan tempat pasar berada penuh orang. Hampir semuanya laki-laki berjenggot, memakai pakaian tradisional Pakistan, shawar gamis, dengan rompi warna gelap dan topi putih kecil di kepala. Lain dengan suasana Lahore. Kalau pernah lihat film Kite Runner yang salah satu scene nya menggambarkan suasana Peshawar, persis seperti itu. Semua jualan ada disana. Mulai buah sampai general anastetik. Mulai panci sampai kambing, mulai voucher HP sampai kulkas, ada semua, lengkap. Akhirnya kita dapat semua yang kita perlukan, kecuali Xylazine, obat penenang. Sudah dikelilingi sampai beberapa toko masih nggak ketemu. Akhirnya kita putuskan tetap operasi meskipun tanpa penenang, Cuma perlu orang dan tali lebih kuat untuk restrain anak kerbaunya. Akhirnya kita bisa melakukan operasi dengan sukses. Hal yang membuat saya senang bukan operasinya, karena sudah beberapa kali melakukan, tetapi berbagi ilmu dengan dokter hewan Pakistan itu yang paling membahagiakan. Apalagi Abdullah antusias menjadi asisten operasi saya dan bilang terima kasih banyak atas sharing keahliannya dan dia bilang belajar banyak dari situ. Alhamdulillah.. Peternak juga terima kasih karena ternaknya membaik. Saya pikir mereka akan tetap terus ingat kalau kerbaunya besar nanti, bahwa saat kecil dia pernah dioperasi hernianya oleh dokter hewan Indonesia, tidak penting apakah dia ingat nama saya, tapi dia pasti ingat dokter hewan dan Indonesia. Paling tidak, sebagai dokter hewan dari Indonesia ada hal baik yang saya tinggalkan dinegeri orang, didekat perbatasan Pakistan-Afghanistan. Selesai dari farm di Haripur operasi hernia, kita menuju farm yang lain di Abbottabad. Farmnya diatas bukit, menuju kesana harus nyebrangi 2 sungai. Yang pertama sungai kecil dan dangkal, mobil Honda City yang kita pakai bisa melewati. Sungai kedua lumayan lebar, tidak dalam, hanya selutut saat itu, tetapi bila hujan atau ada salju yang mencair, jadi dalam juga. Alhasil, kita nyebrangi sungai kedua dengan menapak pada bebatuan yang nongol di sungai. Farm yang kita kinjungi kecil, hanya sekitar 10 an ekor. Pemiliknya pria berjenggot panjang, kita nyebutnya "Big Beard Man". Orangnya ternyata pernah ke Batu beberapa lama, dia aktif di dakwah kayaknya. Bisa bahasa Indonesia sepotong-sepotong. Tidak ada yang menarik untuk diceritakan di farm ini. Pulangnya, saat akan nyebran sungai kedua tadi, kita ditawari untuk disebrangkan dengan kendaraannya, Toyota Pajero. Meskipun sebenarnya nyebrang meloncati batu-batuan nggak masalah, karena menghormati tawarannya, kita ikut di mobil tersebut. Rombongan big beard man ada sekitar 7 orang dan kita ada 3 orang. Total 10 orang. Saya pikir mereka akan nyebrangkan bolak-balik beberapa kali, ternyata sekali jalan. Jadinya uyel-uyelan di mobil. Ada yang nggandol di pintu belakang dua orang. Yang nyopir keponakannya sekitar 15 tahun. Saat masuk ke sungai, jalur yang dipakai terlalu melebar ke kanan sehingga harus nabrak batu yang besar beberapa kali dan akhirnya nyantol ditengah sungai. Per belakang nggandol di batu sehingga tidak bisa jalan. Akhirnya kita coba dorong dan angkat tetapi tetap nggak bisa. Teman saya, Jon marah-marah sama si anak ingusan yang nyopir tadi, "You bloody kid put the car in the river. I don't mind if some body ask me to kick your ass bla..bla..bla.." Saya ketawa mendengar dia misuhi sopir. Ngomongnya nyerocos nggak berhenti-berhenti. Akhirnya karena tidak bisa, kita tinggal dan nyebrangi sungai meloncati batu-batu, tetapi dengan celana yang basah gara-gara mencoba angkat dan dorong mobil. Kita kembali ke penginapan dengan sepatu basah, celana basah dan capek sekali. Pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan seumur hidup, melakukan pekerjaan profesi di perbatasan Pakistan-Afghanistan. Saya pikir, tidak ada yang namanya pengalaman jelek. Saya anggap semua pengalaman itu baik dan memperkaya kehidupan. Bahkan pengalaman jelekpun tetaplah pengalaman dan akan menjadi hal yang baik kalau kita bisa mengambil hikmahnya. Semoga setuju dengan pandangan saya. OK, teman semua, itu dulu surat dari jauh, dari Pakistan yang semoga apa yang saya tulis bisa menjadi sharing pengalaman dan pengetahuan tentang Pakistan. All the best, Heru S Prabowo Abbottabad North West Frontier Province (NWFP) Pakistan Veterinary Advisor Pakistan Dairy development Company www.pddc.com.pk email:
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
Tags: Berita Berita Umum Cerita Dokter Hewan di Perbatasan Pakistan - Afghanistan Berita Terkait Berita Lebih Baru
Berita Lebih Lama
|