|
Setiap tahun masing-masing almamater mengikhlaskan para Dokter Hewan muda menempuh ‘pendidikan’ baru yaitu kampus kehidupan bersama masyarakat. Jika diambil rata-rata, paling tidak ada ratusan dokter hewan baru siap mengaplikasikan ilmunya di bidang klinik, kesehatan masyarakat veteriner, produksi peternakan serta cakupan bidang lainnya.
Kemanakah akhirnya mereka berkecimpung ? Inilah pertanyaan sederhana yang selalu ditanyakan oleh masyarakat umum maupun perternak yang berada di luar pulau jawa kepada saya hampir setiap tahunnya (itung-itung sudah 3 tahun inilah). “O ya banyak bapak/ibu, banyak lho, contohnya ada yang di peternakan sapi perah, ada yang membuka klinik hewan bersama sesama dokter hewan, ada yang berkerja di perusahaan obat hewan bahkan bekerja di luar negeri sebagai tenaga ahli.” Sambil mengikatkan kembali tali leher hewan sapinya, setelah saya beri terapi, salah satunya bertanya kecil, “Kalo untuk kami di luar jawa seberapa banyak pak ?” Pernyataan lain, “Disini ini pak dokter, yang nangani penyakit banyak mantri hewan.” Sedangkan sejumlah pegawai instansi pemerintahan, “Sulit banget ya dek menempatkan tenaga dokter hewan di daerah, banyak yang gak mau, padahal kami butuh, jadi honor dulupun dak papa, kan kalo ada formasi dokter hewan di tes pegawai, pasti kami prioritaskan.” Terkadang saya sering salah sambung menjawab pertanyaan di luar kepala ini, contohnya jawaban saya yang paling atas tadi. Yang nanya mintanya scope luar jawa, sedangkan jawaban saya masih scope ideal dokter hewan di pulau jawa dan luar negeri. Sedangkan hati saya kan tidak enak menjawab, masak saya harus bilang, katanya dokter hewan masih takut ke luar jawa karena orang kalimantan masih makan daging manusia, katanya ada dokter hewan dilarang orang tuanya pergi jauh-jauh yang pengennya tetap di wilayah jawa saja jadi kalo mau kawin tidak susah, katanya ada dokter hewan tidak siap di lapangan karena selama kuliah dulu banyak berkutat di target ngejar IPK, katanya ada dokter hewan yang akhirnya ‘terpaksa’ ke luar jawa karena kebijakan perusahaan obatnya yang mengharuskan dirinya ‘untuk sementara’ ditempatkan di luar jawa misalnya, banyak dokter hewan yang berobsesi idealis pengennya wajib kerja ringan tapi banyak duitnya (tapi kerja apa ya ?). Jawaban off the record di atas juga sering banget kami bahas bersama dokter hewan di daerah. Saya punya pengalaman, pada waktu pembukaan tes cpns serentak tahun 2007-2008 di seluruh kabupaten/kota di daerah saya di kalimantan, jauh-jauh hari HP saya berdering, “Dek Nur, cariin dokter hewan ya untuk kab/kota.....ada formasi sejumlah.....orang.” Yang saya ingat ada 6 kab/kota yang nge-bel saya. “Oh iya Bapak, coba nanti saya kontak teman-teman dan kampus saya.” Singkat cerita, saya hubungi kampus via mantan dosen kesayangan dan alhamdulillah, iklannya telah terpasang di kampus sesuai rencana juga termasuk kontak via sms massal ke teman-teman saya yang dicurigai masih nganggur jaya (apalagi nolong teman kan pahalanya besar). Alhasil ada seorang dokter hewan fresh cewek tampaknya tertarik dengan publikasi saya di kampus. Sayapun excited, apalagi ini cewek lho, sendirian lagi, sebagai kakak kelas saya sangat berdosa besar kalo ndak ngopeni dengan semulia mungkin. Ditambah beberapa kali pihak keluarganya yang dokter hewan meyakinkan saya tentang kesungguhan tekad bu dokter muda ini. Sebaik mungkin saya mencoba kontak dengan kabupaten terdekat dengan kota tempat saya tinggal. Mungkin persepsi tiap orang relatif, namun kabupaten inilah yang cukup baik dan cocok baginya. Akhirnya, sayapun kontak dengan dokter hewan di situ untuk masalah penginapan, sejumlah bantuan berupa kemudahan mengurus administrasi pendaftaran (tapi bukan suap-menyuap lho ! Iya-iya ; tahu-tahu ) dan kontak dengan BKD setempat. Hari kedatanganpun tiba, setelah berkontak via telp dan sms sangat intens (saya khawatir nyasar, opo maneh cewek ! Ngerti dewe to) dan fikiran salut karena keberanian untuk datang kemari sendirian, bu dokter hewan muda datang. Dalam satu paragraf ini, saya coba singkatkan, ternyata bu dokter ini gak ngomong kalo : - Bawa pacar tercinta (mungkin pengen jalan-jalan ?)
- Cuma sehari di pulau kalimantan (ngurus administrasinya piye ?)
- Ternyata setelah menitipkan persyaratan administrasi ke dokter hewan senior di kab, bu dokter gak balik lagi
- Setelah dibantu segalanya (Jujur, kami disini dak minta upah kok), pulang ke Jawa dak pamit (dak usah cium tangan, sms aja cukup kok-kalo kebelet kehabisan pulsa telpon).
Dalam paragraf kedua ini, efek samping yang ditimbulkan adalah : - Pihak keluarga yang merupakan dokter hewan senior menghubungi saya sambil menyayangkan kejadian unik ini
- Kami yang telah berusaha membantu merasa agak malu dengan kabupaten setempat
- Alhamdulillah, beberapa hari setelah kejadian, ada juga sms masuk ke hp saya. Yach syukurlah masih ada secercah santun.
Sedangkan di paragraf ketiga ini, harapan saya : 1. Ya sabar aja dek Nur, wong jenenge arek nom, unggah ungguhe yo gak sepiro (Lho ini nasehat bu siapa ya, saya lupa tapi begitulah bunyinya); 2. Tuh benerkan ? Orang kalimantan dak makan orang, malah baik-baik, disediakan fasilitas tempat dll segala; 3. Semoga masih tertarik untuk bergabung bersama kami membangun masyarakat di sini. Pengalaman lain, setelah tes cpns selesai, ada juga yang silaturahim ke kantor sambil dicarikan lowongan di kantor. Hehehe, saya sesungguhnya bukan PJTKI, Cuma kalo ada formasi CPNS yang telah keluar infonya dari BKD, yach saya teruskan aja ke almamater terkait. Apalagi saya juga masih terhitung baru di kantor, dimana hati saya masih baik dan mulia (emangnya setelah lama bekerja jadi jahat?), jadi saya coba membantu masyarakat peternak luar jawa tersebut dengan membantu rekan sejawat veteriner saya bekerja di instansi pemerintahan sebagai salah satu lahan pekerjaan dokter hewan. O ya, ada adik kelas saya yang Alhamdulillah udah jadi PNS di instansi peternakan bilang begini, yach kalo bisa mas, adik-adik yang mau kesini (mau ke Kalimantan ?? syukurlah), diberi kejelasan tentang bagaimana lingkungan Kalimantan sebenarnya, nanti tidurnya dimana ? apa kos atau ada mes, terus gajinya berapa besarnya, terus nanti statusnya jadi apa ndek sana apakah tenaga kontrak, honorer, atau PNS ? Ok deh-ok deh, dengan penuh wibawa dan tak lupa memasang lingkaran putih di atas kepala saya (hehe), saya menanggapi, ini tergantung dari kabupaten / kotamadya bersangkutan, jika dari hasil diskusi saya dengan wilayah tersebut ok, yach termasuk lingkungan, tempat tinggal, gaji, kejelasan karir kecuali jodoh kalo masih bujangan, maka saya baru berani memasang iklan dimanapun baik via telp, sms hingga iklan di kampus. Yang terakhir, beberapa minggu ini saya mendampingi adik-adik dari mahasiswa koasistensi FKH IPB. Sambil maem gorengan dengan salah satu dengan SKH IPB, saya mencoba memberikan gambaran nyata daerah saya tentang keberadaan dokter hewan. Saya fikir, semangatnya akan ludes dengan cerita saya, eh ternyata dia bilang suka tantangan. Dari sms terakhir (maksudnya terakhir berita ini saya upload), dia nulis, Pertama :“Pa; sya mau nglmr krj d dnas pusat (maksudnya propinsi), gmn y carax?,sy tertarik tuk krj Dsni. Pa;Nur bsa dkung sy ga.” Dan yang kedua :”Sy ingn coba2 melamar dr skr…jd nt tgl nggu lu2s drh sja. Pa’Nur…s’andaix jd drh kontrak,apkh nt ad pngangktn jd krywn tetap ga ya ?. Jawaban saya,”Kalo prestasi kerjamu bagus, bisa aja kmu diusulkan jd pns. Teruslah berusaha.” Akhirnya kembali ke populasi dokter hewan kita (almamater manapunlah), kemanakah gerangan rekan-rekan sejawat melangkahkan kaki profesi ? Sungguh mulia kemanapun kita menjejakkan karir, tapi jangan lupa jika hidup bersama masyarakat kecil juga termasuk profesi mulia. Begitu ta’ iye  Nuraini Suharsono (Silakan Login untuk melihat profil penulis) Tags: Berita Berita Umum Dokter Hewan ke Kalimantan? Suatu Semoga dari Masyarakat Berita Terkait Berita Lebih Baru
Berita Lebih Lama
|