Select Language:
Home arrow Berita arrow Berita Umum arrow Kerbau Single Use Only
  • Join Our Community
  • Join Our Community
  • Join Our Community
Kerbau Single Use Only E-mail
(7 votes)
Ditulis Oleh Heru S Prabowo   
Jumat, 02 Mei 2008

Hi teman-teman semua.. Saat menulis email ini saya sedang berada di Karachi, ujung selatan Pakistan. Karachi merupakan kota terbesar di Pakistan dengan penduduk sekitar 15 juta!! Hampir 4 kali lipat penduduk New Zealand. Saya berada di Karachi selama 5 hari mulai Senin sampai Jumat. Membantu peternak dan staf lokal PDDC melalui kegiatan edukasi langsung ditempat. Mengunjungi peternakan dan mencoba membantu masalah-masalah peternak dalam upaya meningkatkan produksi susu melalui perbaikan manajemen yang paling dasar. 

Seperti layaknya kota terbesar di sebuah negara berkembang seperti juga Jakarta, masalah pertama yang terlihat adalah semrawutnya lalu lintas. Macet, pengendara yang tidak disiplin. Satu hal lagi yang langsung menarik perhatian saya adalah banyaknya rumah susun disepanjang jalan besar di kota Karachi. Staf lokal PDDC yang menemani saya, Ashraf, nyebutnya apartemen. Memang apartemen, tetapi kalau melihat kondisi yang ada, saya cenderung nyebutnya rumah susun. Dari jalan utama terlihat banyak sekali rumah susun antara 3-5 lantai. Dimasing-masing bukaan rumah banyak terlihat jemuran baju penghuninya. Lantai dasarnya dipakai toko, baru lantai diatasnya untuk perumahan. Ini mungkin salah satu solusi untuk mengatasi kepadatan penduduk di Karachi.

Saya mengunjungi beberapa peternakan perah yang 90% nya kerbau. Dengan penduduk 15 juta dan kebiasaan minum susu yang tinggi, maka kebutuhan akan susu di Karachi luar biasa besar. Harga susu segar disini lebih mahal dari kota-kota di Pakistan. Meskipun harga susu tinggi tetapi karena tanah untuk pertanian terbatas, peternak harus membeli hijauan untuk ternaknya. Harganya sekitar Rs 2.5-4 per kg atau sekitar Rp 350-600 per kg. Hal ini terjadi karena banyak lahan pertanian yang dikonversi menjadi kawasan industri. Sebelumnya, banyak peternakan yang berada di dalam kota. Terakhir pemerintah menyediakan lahan di pinggiran kota khusus untuk peternakan. Areal ini dipakai menjadi peternakan yang terkonsentrasi. Disebut cattle colony. Hanya tempatnya saja yang menjadi satu tetapi manajemen peternakan masing-masing ditangani sendiri. Penjualan susu juga dilakukan sendiri-sendiri, tidak melalui KUD seperti di Indonesia. Meskipun banyak kendala beternak kerbau perah di kota besar, tetapi karena potensi pasar yang demikian besar di Karachi membuat banyak orang tetap bertahan beternak mendekati pasar utama susu mereka. Hal ini lebih menguntungkan dari sisi biaya transportasi.

Kalau saya bandingkan cara beternak peternak Karachi dibanding daerah lain di Pakistan (hampir semua kota di Pakistan pernah saya kunjungi) memang lain. Di Karachi mereka hanya berorientasi pada susu. Saya nyebutnya milk oriented dari pada animal oriented. Apa bedanya? Di Karachi, jarang sekali peternak yang mengelola peternakan ternak perah seperti seharusnya. Mengelola dengan seharusnya artinya ada proses dan siklus hidup ternak perah yang terjadi di dalam satu periode waktu. Dari dara, kemudian dara bunting, melahirkan, menghasilkan susu, dikawinkan, bunting lagi, dikeringkan (dry) kemudian melahirkan lagi, pedet dipelihara dan seterusnya menjadi sebuah siklus yang normal terjadi dalam sebuah peternakan perah.

Di Karachi, yang terjadi hanya proses menghasilkan susu dan pemerahan susu. Tidak ada proses pemeliharaan dara, tidak ada program reproduksi, tidak ada sapi laktasi bunting. Yang ada disini hanya sapi laktasi. Semua proses lain terjadi di luar Karachi. Peternak di sini membeli kerbau yang baru melahirkan dari luar kota, memerahnya habis-habisan. Setelah tidak menghasilkan susu, kerbau dijual dan beli lagi kerbau yang baru melahirkan. Begitu terus. Mereka tidak mau repot dengan membuntingkan sapi, memelihara pedet dan proses replacement dara.

Salah satu farm di cattle colony yang saya kunjungi mempunyai 200 an kerbau. Hanya 2 ekor yang bunting dan itupun dry. Dari 200 kerbau, dia hanya punya satu bull, itupun jarang sekali dipakai. Hampir semua peternak kerbau di Karachi menggunakan oksitosin untuk merangsang pengeluaran susu pertama kali (istilah kerennya: stimulate milk let down). Kerbau disuntik 2-5 ml oksitosin 5 menit sebelum diperah, 2 kali sehari selama masa laktasi! Hal ini dimaksudkan untuk mempercepat milk let down karena kerbau memang perlu waktu lebih lama daripada sapi untuk pengeluaran susu pertama kali. Kalau sapi, terutama yang berproduksi susu tinggi, kalau saat pemerahan, tetapi tidak diperah, susu akan menetes sendiri dari puttingnya. Tetapi tidak demikian dengan kerbau, meskipun seharian tidak diperah, susu tidak akan keluar. Ini terjadi karena perbedaan anatomi kelenjar ambing antara sapi dan kerbau. Kalau saya jelaskan panjang lebar nanti jadinya malah kayak kuliah anatomi. Membosankan.

Satu hal lagi, hampir semua peternak kerbau di cattle colony mengggunakan BST (bovine somatotropin). Ini hormon yang diproduksi oleh otak untuk pertumbuhan. Dulu di sebut Growth Hormon (GH). Setiap dua hari, kerbau disuntik dengan BST yang di Karachi sangat terkenal dengan nama Boostin. Ini bertujuan untuk meningkatkan produksi susu dan memang hasilnya lebih banyak susu yang dihasilkan. Hormon yang dipakai dihasilkan dari rekayasa genetik dari bakteri E.coli yang dengan teknik yang canggih, bisa menghasilkan hormon ini.

Di Eropa, penggunaan hormon ini dilarang karena proses pembuatannya yang melalui rekayasa genetik tersebut. Di Amerika sebenarnya juga belum diakui oleh FDA, tetapi FDA menyatakan bahwa susu yang berasal dari sapi yang diinjeksi BST aman untuk konsumsi. Dan ini juga masih dalam taraf riset. Hal yang sebaliknya terjadi di Karachi, hormon ini sudah sangat luas dipakai untuk meningkatkan produksi susu kerbau. Kerbau yang dipelihara di Karachi, kebanyakan diberi pakan jerami gandum yang praktis sebenarnya hanya serat tanpa nutrisi, ditambah beberapa kilo konsentrat. Peternak berharap dengan biaya pakan yang murah, kerbau bisa menghasilkan susu yang banyak dengan cara menyuntik BST. Kerbau memang menghasilkan susu yang lebih banyak dibanding dengan tidak menyuntik BST tetapi efek ke kerbau akan sangat merusak.

Dengan pakan yang seadanya tetapi kerbau dipacu menghasilkan susu lebih banyak, akibatnya tubuh secara otomatis akan menguras semua cadangan energi yang bisa di konversi menjadi susu. Maka prioritas tubuh adalah menghasilkan susu sedangkan proses yang lain akan terabaikan. Farm yang saya kunjungi mempunyai masalah mastitis yang banyak, hampir tidak ada kerbau yang menunjukkan berahi, beberapa kerbau yang menunjukkan terjadinya edema (bengkak) bawah kulit dan ascites yang merupakan indikasi rendahnya kadar protein darah sehingga mengakibatkan pengeluaran cairan intrasel ke extra sel melalui osmosis. Hal ini di sebut hipoproteinemia.

Saya menduga kalau sebagian besar kerbau juga mempunyai masalah liver yang kronis akibat BST ini. Semoga penjelasan ini nggak terlalu "ndakik". Kumpulan dari masalah ini kemudian mengakibatkan munculnya manajemen kerbau perah yang saya sebut "come and go management". Peternak membeli kerbau yang fresh, diperah, setelah tidak menghasilkan susu, peternak menjualnya dan beli kerbau baru lagi. Ini membuat kerbau hanya "single use only". Hanya dipakai satu kali laktasi di satu farm. Kalau kerbau beruntung jatuh ke tangan peternak yang lebih baik, dia bisa bunting lagi dan meneruskan hidupnya. Kalau tidak beruntung akan berujung ke rumah potong hewan. Ini dikuatirkan berpotensi hilangnya kerbau yang punya potensi genetik bagus karena salah manajemen seperti ini di Pakistan. PDDC (Dairy Pakistan) berusaha meletakkan dasar-dasar manajemen peternakan yang benar pada peternaknya. Kita menyebutnya sustainable dairy farming management.

Saat saya dan Ashraf mengunjungi farm Muh. Hayat di cattle colony di Karachi yang berminat menjadi salah satu model farm program, kita harus meyakinkan peternak agar mengadopsi sistem peternakan yang benar. Saya berpikir, bagaimana membuka mata peternak terhadap praktek manajemen yang kurang tepat ini ke arah yang lebih baik, kearah sutainable dairy farming management. Untuk membuat perubahan, tidak perlu melakukan dalam skala yang besar pertama kali, kecil dulu. Saya pikir Muh Hayat bisa dijadikan entry point untuk tujuan ini. Kalau satu peternak bisa diyakinkan dan ternyata berhasil, maka dia akan bercerita keberhasilannya ke teman-teman peternak lainnya. Saya pikir juga bahwa model peternak seperti ini nggak bisa dikasih pengertian teoritis yang "ndakik-ndakik" tetapi harus sesuatu yang langsung berhubungan dengan uang yang menjadi prioritas mereka.

Saya kemudian membuat sebuah analisis finansial yang membandingkan praktek "come and go" dan peternakan perah yang seharusnya. Terlihat sekali bahwa peternak sebenarnya rugi kalau mempraktekkan come and go terutama karena selisih harga antara kerbau fresh yang baru dibeli dengan kerbau dry yang diafkir. Selisihnya sampai separuhnya. Belum lagi biaya yang dikeluarkan untuk beli Boostin. Belum lagi biaya untuk masalah kesehatan hewan seperti mastitis yang tinggi. Kesimpulannya, come and go management merugikan. Titik.

Melalui diskusi yang singkat tapi padat dengan Ashraf sebelumnya, akhirnya dia menyampaikan ke peternak dalam bahasa Urdu yang poinnya seperti yang sudah kita diskusikan. Alhamdulillah, peternak menyadari potensi rugi yang kita sampaikan dan berniat untuk melakukan perbaikan. Masih belum terbukti bahwa dia akan melakukan apa yang kita sarankan, tetapi paling tidak dia memahami apa yang kita coba untuk sampaikan. Kayak cerpen ya? Kelihatannya mudah sekali, padahal kalau mengalaminya sendiri, bikin mumet. Melalui penjelasan yang agak "ndakik" tentang Boostin, efek negatif pada sapi dan apa yang seharusnya dilakukan pada ternak, peternak juga menjadi terbuka pikirannya dan berniat mengurangi atau tidak menggunakan pada masa yang akan datang. Tentunya dengan pelan-pelan. Nggak bisa langsung.

Dari pengalaman ini, pada dasarnya orang bisa dan mau berubah asalkan cara menyampaikan pesan sesuai dengan keadaannya dan mengena pada inti persoalan. Cara pikir kita dalam menyampaikan pesan perubahan harus dengan mengasosiasikan bahwa kita diposisi mereka dan coba pahami apa yang menjadi alasan mereka melakukan hal tersebut. Mungkin hanya kekurang tahuan atau bisa juga karena tidak ada kemauan. Saya ini ngomong apa. Dari kerbau kok ngelantur kemana-mana. Itu dulu deh, sedikit pengalaman dari Karachi, Pakistan. Hampir 3 halaman full. Kalau kebanyakan bisa bikin batuk dan ngantuk. Laughing

Sebenarnya masih banyak hal menarik lain tentang Karachi dan ternak kerbau perahnya. Saya tulis terpisah saja biar nggak kepanjangan. Semoga bisa menambah informasi atau sedikit bisa menginspirasi.

Karachi, 24 April 2008

Heru S Prabowo

Veterinary Advisor Pakistan Dairy Development Company

www.pddc.com.pk email: Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya mobile: +92 345 8444 308





Facebook!Yahoo!
Berita Terkait
Berita Lebih Baru
Berita Lebih Lama
Comments
Add NewSearch
agus - kerbau single use only by heru   | | 2008-05-03 11:19:15
mohon maaf ini apa drh heru sp from FKH airlangga 92
Heru Prabowo - kolega Agus     | | 2008-05-03 11:20:05
Betul kolega Agus, Saya alumni FKH Airlangga 1992.
Silakan Login Untuk Menulis Komentar

Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved.

 
< Sebelumnya   Berikutnya >
 anton kushartono
 serly amah
 john ragil
 tutik retnaningati
 citra pramita
 iwan heriawan
 Ayu Setiawati
 sandi pradikta
 deddy rapen
 Abdul Haris
 Joshua Loh
 Shandy Maha Putra
 khrisna wahyu
 Dewi Larasati
 deny jaya triatma
 henny Pringadi
 deddy rapen
 Ayu Joesoef
 deny jaya triatma
 dedi kurniawan
 arif rahman
 Gold Coin HR
 Citra Nuranisa
 Ayu Setiawati

Featured Video




More on Vet Videos...

Find Us On Facebook

Berlangganan


Masukkan Alamat Email Anda:


Jurnal Terbaru

Keberhasilan reproduksi akan sangat mendukung peningkatan populasi sapi potong. Namun kondisi sap...

Tatalaksana perkandangan merupakan salah satu faktor produksi yang belum mendapat perhatian dalam...

Dalam rangka menghadapai swasembada daging sapi tahun 2010 diperlukan peningkatan populasi sapi p...

Who's Online

Saat ini ada 108 tamu online