|
Pidie Jaya, Aceh. Pukesmaveta bekerjasama dengan Dinas Peternakan Kabupaten Pidie Jaya, Aceh mengembangkan model pengembangan peternakan rakyat yang berkelanjutan di gampong Lancok, kecamatan Meurah Dua dengan pendekatan empowering dan pendampingan berkelanjutan. Drh. Muzakir Ismail, koordinator program pemberdayaan peternak Dinas setempat menyebutkan, pada tahun 2008 ini jumlah kelompok ternak yang mendapat program ini sebanyak 50 orang yang dikelompokkan dalam 10 kelompok. Tiap kelompok mendapat titipan 20 ekor sapi yang dikoordinir oleh satu orang ketua kelompok yang didampingi secara berkelanjutan oleh tim Pukesmaveta.
Karena itu, sebutnya, program ini telah berjalan dengan baik sejak diluncurkan pada bulan Maret lalu. Pendampingan yang melibatkan pihak Pukesmaveta sebagai institusi yang memahami pemberdayaan sosial dan profesional dapat meminimalkan kemungkinan terjadinya kegagalan program. Lebih lanjut, Muzakir menyebutkan pengalaman selama ini banyak program yang gagal mengangkat petani ternak karena tidak didampingi dan dibina secara berkelanjutan oleh pihak lain yang berkompeten. Makanya, program tahun ini pihaknya menggandeng Pukesmaveta sebagai mitra petani dan konsultan pendamping masyarakat. Direktur Pukesmaveta, Drh. Baihaqi Abdul Majid menjelaskan bahwa keinginan Pukesmaveta untuk memberdayakan peternak Aceh yang baru bangkit dari keterpurukan karena konflik panjang mendapat respon yang baik dari lembaga pemerintah yang berwenang di kabupaten pidie jaya. "Kami terus bergerak untuk membantu pendampingan petani ternak Aceh, agar Aceh kembali menjadi kawasan sentra produksi peternakan di Asia Tenggara", ungkapnya mantap. Pembangunan peternakan rakyat di tanah air, harusnya memang melibatkan semua stakeholders masyarakat sehingga pencapaian keberhasilan dapat terjamin. Pemerintah tidak perlu jalan sendiri dan merasa pintar sendiri, karenanya pemerintah harus melibatkan lembaga-lembaga yang ada dalam masyarakat, misalnya koperasi, kelompok ternak, tokoh masyarakat dan lain-lain. Selain itu, pemerintah harusnya fokus menjadikan kawasan-kawasan pengembangan peternakan menjadi kawasan unggulan daerah atau kabupaten. Peternakan rakyat harusnya didesain secara terpadu dan berdimensi jangka panjang. Ambil saja model pembangunan peternakan Selandia Baru yang mampu menjadi negara penghasil produksi paternakan terbaik di dunia. Khusus untuk Aceh, Baihaqi menyarakan tidak semua kawasan atau kabupaten dijadikan sentra produksi peternakan. Karena kriteria kawasan unggulan peternakan harus memenuhi kriteria iklim, padang rumput, teknologi, pelabuhan, sumberdaya insani dan karakter masyarakat yang memiliki kolerasi bagi keberhasilan kawasan pengembangan unggulan peternakan. Selain itu, kebijakan pemerintah setempat dan dukungan semua masyarakat yang berpihak, proteksi kebijakan jangka panjang dan dilalukan dengan tahapan pengembangan program yang benar. "Kalau ini dilakukan tak mustahil, Aceh akan menjadi daerah yang mampu memenuhi permintaan pasar ternak Timur Tengah ke depan", ujarnya. Berita Terkait Berita Lebih Baru
Berita Lebih Lama
|