|
Penemuan Peredaran Daging Limbah |
|
|
Ditulis Oleh Rizaldo Arbet
|
|
Minggu, 14 September 2008 |
|
Salam kolega sekalian, Pangan memang kebutuhan yang mendasar bagi manusia, Penemuan "daging sampah" di wilayah Jakarta Barat bukankah salah satu indikator lemahnya pengawasan pangan. wah…. Apalagi ini???
Kenapa ini bisa terjadi, ternyata ada sebuah "peluang" bagi mereka yang mengambil sisa makanan (ikan, daging) dari rumah makan, hotel maupun sisa rumah tangga. Daging tersebut diolah kembali menjadi masakan yang wangi seolah-olah bergizi.
Tampilan secara fisik "daging limbah" yang telah di olah ini tidak akan terdeteksi, dari bau?? namun kalau bumbunya lebih dominan akan terlewati bau khas "daging neraka" ini. Dari aspek kesehatan pangan, Daging Sampah jelas pasti bukan pangan, apakah ini dulu pernah terjadi, atau kah pada saat ini (lemah perekonomian).
Penganjuran kontrol pemerintah lebih dipertajam, ada beberapa pihak yang terkait dalam hal ini yaitu; Badan Pengendalian Obat dan Makanan dengan Fakultas Kedokteran Hewan Indonesia "per regional (5 reg)" Bidang Kesehatan Masyarakat Veterinar (KESMAVET) di bawah PDHI diperkuat oleh Yayasan Konsumen Indonesia.
Jangan mengharapkan pengaduan ataupun keluhan dari masyarakat, karena masyarakat hanya bisa melihat dari perubahan fisik. Pemutusan mata rantai sumber pungutan dengan si pemungut apa itu bisa dilakukan.
Ini hanya diskusi kecil.
Salam, Rizaldo Arbet Berita Terkait Berita Lebih Baru
Berita Lebih Lama
|