Select Language:
Home arrow Berita arrow Berita Umum arrow Penerapan Bioteknologi Reproduksi pada Sapi Perah
  • Join Our Community
  • Join Our Community
  • Join Our Community
Penerapan Bioteknologi Reproduksi pada Sapi Perah E-mail
(15 votes)
Ditulis Oleh drh. M. Arifin Basyir   
Selasa, 10 Maret 2009

Melanjutkan tulisan tentang Bioteknologi Reproduksi, bahwa masih terdapat fenomena mengapa sapi perah produksi tinggi sulit berkembang biak. Beda dengan fenomena 1, 2 dan 3 yang berhubungan dengan sistem hormonal atau endokrinologi reproduksi. Pada fenomena 4 ini berhubungan dengan perubahan beban fisiologis sapi perah sehubungan dengan produksi susu yang tinggi itu. Adapan lebih jelasnya adalah sebagai berikut. 

(4). Dalam menjalankan atau menjalani satu siklus reproduksi (satu calving interval) sapi perah. Setelah melahirkan sapi memasuki periode laktasi dan 'days open'. Hari kosong yang lamanya 2 minggu ini uterus mengalami involusi, kembali ke normal mempersiapkan bunting berikutnya. Terdapat 2 beban fisiologis pada periode ini adalah beban fisiologis untuk hidup pokok dan laktasi. Setelah dua bulan sapi harus bunting lagi dan memasuki awal puncak laktasi, sehingga menanggung 3 beban fisiologis, yaitu hidup pokok, puncak laktasi dan bunting.

Memasuki bulan ke 7 kebuntingan sapi dikeringkan (kering kandang selama kira-kira 2 bulan), sehingga beban fisiologis menjadi 2 lagi yaitu hidup pokok dan bunting tua. Artinya selama satu kali siklus reproduksi yang lamanya kira-kira satu tahun, sebagian besar waktu hidup sapi yaitu sekitar 8 bulan harus menanggung 3 beban fisiologis sekaligus yang nota bene sangat berat menuju puncak laktasi dan bunting tua, apalagi sapi perah produksi tinggi.

Konsekuensi dari fenomena ini adalah harus tersedia pakan yang lebih dari cukup (meningkat lebih banyak dari biasanya) dan berimbang secara kwalitatif maupun kwantitatif. Meskipun manajemem mampu memenuhi kebutuhan pakan sesuai dengan perhitungan yang mungkin meningkat 2-3 kali dari biasanya. Perlu diingat bahwa kemampuan sapi menghabiskan pakan tidak sebanding dengan jumlah pakan yang harus dihabiskan pada periode itu. Selain tidak cukup waktu meskipun diberikan secara ad libitum, harus diingat bahwa sapi membutuhkan waktu untuk mengunyah ulang/memamah biak.

Di lain pihak kapasitas perut sapi juga terbatas, apalagi sudah terdapat sisa-sisa serat kasar pakan yang tidak tercerna dan menumpuk memenuhi sebagian rongga rumen sehingga kapasitas makin berkurang. Sebagai akibat adalah sapi mengalami malnutrisi dengan segala akibatnya penyakit defesiensi dan penyakit metabolik. Antara lain ketosis, hipokalsemia atau milk fever dan sejenisnya. Akibat lebih lanjut adalah paresis, paralisis sapi ambruk dengan segala komplikasi yang menyertai, diantaranya anoreksia, kembung, pneumonia.

Kelihatannya 'aneh' sapi menderita nafsu makan menurun, akibat 'kekurangan' pakan. Tapi begitulah kenyataannya.Sangat sulit mengatasi kondisi semacam ini karena terdapat faktor kausatif yang komplek berakibat komplikasi. Ujung-ujungnya dari kasus ini adalah sapi harus dipotong paksa atau bahkan kedahuluan mati sia-sia.

Dapat disimpulkan bahwa sapi perah produksi tinggi, bukan hanya sulit berkembang biak tapi bahkan sulit untuk mempertahankan hak hidupnya. Karena itu jangan biarkan kasus itu terjadi, lebih baik mencegah daripada mengobati. Caranya adalah kurangi beban fisiologisnya dengan tidak memberi kesempatan bunting, tetapi tetap mempunyai anak keturunan, berikan status sebagai induk donor (induk genetis, induk biologis) melalui pemberdayaan penerapan bioteknologi reproduksi sebagaimana diuraikan pada tulisan terdahulu. (bersambung...)

drh. M. Arifin Basyir





Facebook!Yahoo!
Berita Terkait
Berita Lebih Baru
Berita Lebih Lama
Comments
Add NewSearch
wiryo   | Registered | 2009-03-22 19:07:47
saya tunggu info selanjutnya terutama masalah biaya, kebetulan saya bekerja di koperasi sapi perah/peternakan rakyat dimana permasalahan diatas sering muncul....tq
arifinbasyir - info biaya untuk pak wiryo     | Registered | 2009-03-23 02:24:23
avatar Biaya yang paling besar untuk modal awal, itupun sebenarnya juga tidak 'seberapa', karena akan dipakai selama-lamanya yaitu berupa mikroskop stereo.Ada yang sederhana seharga sekitar Rp.5 juta.Alat lain inkubator untuk inaktivasi serum (serum buat sendiri, dari darah sapi ybs) dan sentrifuge (memisahkan serum dari darah). Alat tsb dapat direkayasa sendiri dari alat rumah tangga, rice warm untuk inkubator dan blender untuk centrifuge. Alat lain tidak terlalu mahal Foley cateter (harga beberapa puluh ribu)juga untuk selama-lamanya, cairan steril, lakto ringer atau NaCl fisiologis untuk media flushing, satu botol sekali pakai. Pak Wiryo lokasi anda dimana, dapatkah kontak dan komunikasi dengan saya. Terimakasih
wiryo   | Registered | 2009-03-25 11:12:51
Saya bekerja di Koperasi Agro Niaga (KAN) Jabung Malang Jatim bergerak dalam bidang agri bisnis dengan unit usaha sapi perah sebagai Core business, saya alumni Unair angkatan '96...
arifinbasyir - info penerapan biotekrep     | Registered | 2009-03-25 11:18:13
avatar Nah,begini pak Wiryo. Coba dulu secara informal anda bincang-bincang (pdkt, kasak-kusuk atau lobying, atau apapun istilahnya)kepada managemen/pengurus koperasi, bagaimana kita mungkinkan menerapkan manajemen seperti tulisan di situs kita ini. Atau melalui jalur formal pada acara RAT, mengusulkannya. Yakinkan para pengurus membaca tulisan itu atau berikan print outnya agar terbuka dulu wawasannya.Sementara ini saya juga sedang mencoba pdkt (komunikasi pribadi)kepada pengurus koperasi yang atas (GKSI),agar mau memfasilitasi penerapan biotekrep itu. Mudah-mudahan nyambung kita bisa bertemu dan menerapkannya. Biaya modal awal beli mikroskop stereo segitu saya kira 'kecil' meski koperasi primer seperti di tempat anda. Apalagi pusat koperasi dan gabungan koperasi,yakin mampu memfasilitasi semua koperasi primernya. Mari kita berusaha sambil berdo'a mewujudkan cita-cita.
wiryo   | Registered | 2009-03-25 11:16:35
beberapa waktu yang lalu saya sempat berkunjung di Ponpes Al Zaitun di Indramayu, disana sudah dikembangkan embrio transfer tapi ifo yang saya dapat tingkat keberhasilannya belum begitu memuaskan, kalau boleh tahu instansi tempat Bapak bekerja dimana ya...
arifinbasyir - info penerapan biotekrep     | Registered | 2009-03-25 11:25:22
avatar Ya anda betul, ponpes itu adalah salah satu binaan oleh instansi pemerintah yang mengurusi biotekrep ini dimana saya bekerja (lihat web data profil saya)dan betul juga memang hasilnya masih rendah. Salah satu kendalanya adalah 'ditangani' kurang profesional oleh sdm yang bukan kapasitasnya secara disiplin ilmu (meski S1 tapi bukan S1+ seperti kita, bahkan tenaga pendidikan menengah dan diploma), sehingga tidak menguasai sepenuhnya. Perlu diketahui bahwa transfer embrio berhubungan dengan banyak ilmu, selain embryologi, fisiologi reproduksi, endokrinologi reproduksi, farmakologi dsb,dsb yang nota bene ilmu yang kita pelajari selama ini yaitu dokter hewan.Karena itu untuk sementara saya bergerak sendiri tidak membawa nama instansi, tetapi atas nama profesionalisme (pejabat fungsional medik veteriner)dan profesionalisme (dokter hewan praktisi).
arifinbasyir   | Registered | 2009-03-25 11:28:04
avatar Kalaupun ada kegagalan dapat mengevaluasi dan mempertanggung jawabkan secara profesional. Tidak selama ini yang terjadi, menyalahkan dan mencari kesalahan fihak-fihak tertentu. Padahal dirinya sendiri yang salah dan tidak tahu kalau dirinya itu salah (tidak profesional).Pak Wiryo agaknya tidak etis diskusi kita ini secara online. Baiknya offline lewat e-mail saja ya. Terima kasih
wiryo   | Registered | 2009-03-29 15:35:52
ok Pak kita sambung via email, semoga ada pihak2 yang berkepentingan dengan produksi susu ada yang tertarik dengan biotekrep ini....Drh. Woro, ada tanggapan?
Silakan Login Untuk Menulis Komentar

Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved.

 
< Sebelumnya   Berikutnya >
 debi drahmawan
 sovia hariani
 killybelanus tan
 Devine Larasati
 raja selian
 siti fatimah
 siwi susilaningrum
 treesam xie
 deddy rapen
 Abdul Haris
 Joshua Loh
 Shandy Maha Putra
 khrisna wahyu
 Dewi Larasati
 deny jaya triatma
 henny Pringadi
 deddy rapen
 Ayu Joesoef
 deny jaya triatma
 dedi kurniawan
 arif rahman
 Gold Coin HR
 Citra Nuranisa
 Ayu Setiawati

Featured Video




More on Vet Videos...

Find Us On Facebook

Berlangganan


Masukkan Alamat Email Anda:


Jurnal Terbaru

Keberhasilan reproduksi akan sangat mendukung peningkatan populasi sapi potong. Namun kondisi sap...

Tatalaksana perkandangan merupakan salah satu faktor produksi yang belum mendapat perhatian dalam...

Dalam rangka menghadapai swasembada daging sapi tahun 2010 diperlukan peningkatan populasi sapi p...

Who's Online

Saat ini ada 124 tamu online