|
Dunia kesehatan masyarakat veteriner (kesmavet) selalu menjadi buah bibir menjelang event-event keagamaan dan event nasional, seperti bulan Ramadhan, Hari Raya Idul Fitri, Hari Raya Idul Adha dan hari-hari raya lainnya yang melibatkan kebijakan dan kepentingan publik serta kemaslahatan ummat manusia. Dunia Kesmavet Indonesia, sering muncul dengan wajah asli di layar-layar televisi nasional dengan penuh kesemrawutan dan salah urus dari atas sampai ke bawah. Peredaran daging limbah, daging sapi yang dicampur daging celeng, daging illegal, daging berpotensi merusak manusia karena penyakit menular (zoonosis), daging tidak sehat, daging ayam mati, suntikan formalin, suntik air dalam daging dan berbagai praktek keji para pengusaha dan pedagang yang hanya mencari untung diatas penderitaan orang lain merupakan pemandangan yang biasa di Indonesia.
Bahkan, saking biasanya, pemerintah kita bahkan rutin saban hari, bulan dan tahun, terus menghadapi masalah-masalah patologi sosial ini secara sistematis. Tanpa upaya dan langkah-langkah memutuskan semua 'kejahatan kemanusiaan' ini secara permanen. Pada kasus kejahatan kesmavet yang lebih canggih, dalam bulan Ramadhan ini ditemukannya peredaran makanan dan susu yang terinfeksi bahan melanin di Mall dan hypermaket di kota-kota besar. Makanan dan susu berisi melanin ini merupakan produksi impor dari negara asing (Cina). Keresahan yang ditimbulkan juga tidak kepalang tanggung, bahkan banyak negara di Asia Tenggara, termasuk Singapura, Malaysia, Thailand ikut panik, tetapi pejabat mereka sangat cepat berindak. Pada Ramadhan ini juga, kita dikejutkan lagi dengan kebijakan Menteri Pertanian RI, Anton Apriyantono yang akan membuka kran import sapi dan daging asal negara Amerika Latin, Brazil yang terkenal sebagai negara endemis PMK. Sangat luar biasa, bahkan Menteri ini dengan bangga menyatakan akan bertanggungjawab terhadap kemungkinan penularan PMK jika import sapi dari Brazil terealisasi. Padahal dokter hewan-dokter hewan di negeri kita pada masa lalu telah dengan susah payah membebaskan wabah penyakit ini di tanah air sehingga negara Indonesia dikenal sebagai negara yang bebas PMK. Kita sangat menyesalkan, sikap Menteri Pertanian yang tidak mau tahu akan nasib dunia kesmavet dan dunia peternakan tanah air yang kembang kempis. Harusnya, Menteri Pertanian justru tidak mengusung kepentingan pengusaha dan para importir ternak yang hanya ingin menikmati dolar dari mahalnya harga daging dalam negeri, sementara produksi dalam negeri anjlok dan peternak tanah air dimarginalkan. Bahkan pemerintah Indonesia, dalam hal ini Departemen Pertanian dapat dikatakan telah gagal mengangkat produksi ternak dalam negeri. Karenanya, kita ingin menggugat saja dengan pertanyaan, lalu untuk apa Departemen Pertanian? Apakah Departemen ini layak dipertahankan untuk memajukan dunia peternakan kita, tempat bergantung nasib 250 juta lebih rakyat yang membutuhkan sumber protein hewani? Atau perlu kita usulkan untuk ditiadakan saja? Catatan lain, kasus yang super canggih seperti bioterorisme yang mungkin dapat disebut contoh flu burung, pencemaran bakteri enterobacter shakazakii yang masih menjadi bulan-bulanan dan yang terakhir sempat menjadi bola liar. Sungguh wajah dunia kesmavet Indonesia sedang dipermainkan. Berbeda halnya dengan dunia kesmavet negara-negara tetangga kita, Malaysia contohnya, begitu rapi dan sistematis dalam mengatur masalah hajat hidup orang banyak ini. Pemerintahnya tidak sombong dan takabur dalam mengelola urusan kesehatan publik, tidak sok pintar seperti Menteri-Menteri dan pejabat di negara kita yang sok tahunya sampai di ubun-ubun. Karenanya tidak aneh, jika kejahatan dunia kesmavet di negeri ini terus menjadi-jadi, seperti ada pembiaran dari pemegang kebijakan. Belum lagi hukum dan sanksi yang tidak konsisten dan tidak membuat para pelakunya jera dan taubat. Lagi-lagi Departemen Pertanian yang memiliki otoritas tidak memiliki strategi untuk menjawab persoalan, sehingga taruhannya adalah nasib generasi penerus dan manusia Indonesia yang sehat dan berkualitas akan menurun. Menteri Pertanian, yang dijabat oleh orang-orang yang tidak berkompeten karena aliansi politik, justeru memberikan kontribusi besar bagi maraknya kejahatan bidang kesmavet yang berakhir pada rusaknya kesehatan jasmani dan rohani generasi bangsa. Dunia kesmavet seharusnya menjadi bidang yang sangat penting, karena langsung terkait dengan kebutuhan sehari-hari masyarakat. Kita bisa menyimak dalam kitab suci umat Islam, Al-Qur'an Al-Karim, betapa banyaknya Allah SWT mengatur dunia kesehatan masyarakat veteriner ini. Allah SWT bahkan menyebut-nyebut susu, daging, hewan ternak, perdagangan yang jujur, timbangan yang tepat secara berulang-ulang. Bahkan seorang Nabi Syu'aib As, yang khusus diutus kepada kaum yang telah melakukan kejahatan perniagaan (ekonomi) dalam segala sendi seperti halnya mencampur daging halal dengan haram, menjual hewan mati, dan lain seterunya. Karenanya, kita berharap kepada para ahli bidang kesehatan masyarakat veteriner dan para dokter hewan di Indonesia agar dapat membangun kedaulatan dunia kesehatan masyarakat veteriner secara utuh. Tanpa usaha dari para ahli dan dokter hewan yang sungguh-sungguh, nampaknya tidak akan ada perubahan nasib dunia satu ini yang sangat menentukan nasib perjalanan bangsa ini. Kita tidak boleh membiarkan, merajelalanya kejahatan-kejahatan di bidang kesehatan masyarakat veteriner yang dilakukan oleh penjahat-penjahat kemanusiaan. Mari kita bertindak! wallahu'alam bissawab. Oleh: Baihaqi Abdul Madjid (Direktur Pusat Pengembangan Kesehatan Masyarakat Veteriner dan Peternakan) * penulis adalah mantan aktivis ISMAKAHI periode 1994-1995, sekarang masih fungsionaris Pengurus ICMI Pusat Berita Terkait Berita Lebih Baru
Berita Lebih Lama
|