Q fever merupakan penyakit yang bersifat zoonosis yaitu dapat ditularkan dari hewan ke manusia atau sebaliknya. Hewan ternak yang dapat terserang adalah sapi, kambing, domba maupun ternak ruminansia lain. Penularan dapat terjadi melalui kontak langsung dengan hewan terinfeksi, melalui makanan asal ternak terinfeksi seperti daging, susu, produk ternak lainnya maupun oleh partikel debu yang terkontaminasi agen penyebab. Q fever telah menjadi problem kesehatan masyarakat di banyak negara seperti Amerika, Perancis, Inggris, Italia, Jerman, Spanyol, Kanada, Jepang, Australia, Thailand, Taiwan, dan Malaysia.
Bahaya Zoonosis Q Fever Penyebab Q fever adalah bakteri Coxiella burnetii (C.burnetii). Gejala klinis Q fever pada manusia yang tampak adalah demam seperti gejala influenza dan seringkali diikuti dengan radang paru. Penyakit Q fever seringkali bersifat menahun dan menimbulkan kondisi yang fatal yaitu mengakibatkan kegagalan fungsi hati, radang tulang, radang otak, gangguan pada pembuluh darah dan yang sering terjadi adalah peradangan jantung (endocarditis) yang berakibat fatal (Rice dan Madico 2005).
Negara Amerika bahkan menempatkan C.burnetii sebagai salah satu mikroorganisme yang berpotensi sebagai senjata biologi (CDC 2003). Laporan APEC (2005) menyatakan adanya 13 penderita Q fever pada manusia di Colorado. Hal ini lebih menegaskan lagi bahwa Q fever masih merupakan masalah di benua Amerika.
Epidemiologi Q Fever Penelitian tentang Q fever di beberapa negara sudah demikian maju, bahkan sekuensing genom dari C. burnetii secara lengkap sudah dilakukan (Seshadri et al. 2003). Hal ini mengingat C. burnetii mempunyai potensi untuk dipakai sebagai senjata biologis. Laporan epidemiologi dari banyak negara menyebutkan bahwa orang yang sering kontak langsung dengan ternak, seperti peternak, pekerja rumah potong, masyarakat yang tinggal di daerah kumuh (urban area) berpeluang besar terserang Q fever. Indonesia dengan jumlah penduduk yang sebagian besar adalah petani yang tidak terlepas dari hewan ternak serta banyaknya lokasi kumuh di perkotaan sangat rentan terhadap infeksi Q fever.
Penelitian terhadap penyebab Q fever di Indonesia sampai saat ini belum pernah dilaporkan. Hal ini bukanlah karena tidak ada kasus Q fever, tetapi lebih disebabkan oleh gejala klinis bentuk akut infeksi Q fever yang tidak begitu menciri, seperti terjadinya pneumonia, keguguran ataupun tingginya kasus hepatitis dan endokarditis. Temuan kasus klinik belum pernah didiagnosa kearah adanya Q fever, sehingga kurang menjadi perhatian oleh pemerintah dan masyarakat seperti halnya infeksi akut avian influenza (AI) ataupun Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Padahal dampak jangka panjangnya sangat membahayakan dan fatal bagi manusia.
Di sisi lain Indonesia merupakan pengimpor ternak terutama sapi baik sapi bakalan maupun daging beku dari Amerika, Australia, New Zealand dan beberapa negara lain. Pada tahun 2005 Indonesia telah mengimpor sapi sebanyak 700.000 ekor dari Amerika dan Australia (Raswa 2005). Selain itu era globalisasi akan meningkatkan arus lalu lintas perdagangan ternak dan juga mobilitas manusia, yang juga berdampak terhadap cepatnya penyebaran penyakit khususnya zoonosa seperti Q fever ataupun yang lainnya.
Penentuan diagnosis yang cepat dan akurat terhadap Q fever merupakan satu keniscayaan yang sampai saat ini terus dikembangkan di negara-negara maju sebagai upaya pencegahan dan terapi yang tepat dan cepat. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji penyebab Q fever pada ruminansia; sapi, domba dan kambing menggunakan teknik nested-polymerase chain reaction (nested-PCR).
Q fever Pada Ruminansia Hasil kajian diperoleh bahwa dari 410 total sampel ruminansia, 12 ekor sapi Brahman cross dan 6 ekor domba yang berasal dari Bogor, serta 3 ekor sapi Bali yang berada di Bali menunjukkan hasil positif. Sampel dari Kambing semuanya menunjukkan hasil negatif dengan nested-PCR. Sapi Brahman cross adalah jenis sapi impor yang berasal dari Amerika dan Australia. Negara-negara tersebut sampai saat ini masih belum terlepas dari masalah kasus Q fever (CDC 2003).
Hasil pemeriksaan terhadap Sapi Bali Dari 70 ekor sapi Bali yang diperiksa ternyata 3 ekor positif terhadap adanya C. burnetii. Sapi Bali yang diperiksa berasal dari kabupaten Karangasem yang merupakan daerah dengan populasi Sapi Bali terbesar di provinsi Bali yaitu 129.688 ekor. Sapi-sapi tersebut umumnya sebagian besar dikirim keluar daerah bahkan diantar pulaukan, hanya sebagian kecil yang dikonsumsi mengingat sebagian besar masyarakat Bali beragama Hindu tidak mengkonsumsi daging sapi.
Sapi Bali merupakan plasma nutfah yang dijaga kemurnian genetiknya dengan tidak memasukkan jenis atau strain sapi dari luar Bali. Oleh karena itu, dengan ditemukannya C. burnetii pada sapi Bali tersebut, merupakan suatu hal yang menarik untuk diteliti lebih lanjut, mengingat penellitian tentang Q fever pada sapi Bali yang ada di Bali baru pertama kali dilakukan maka hampir tidak ada data penunjang untuk dapat mengetahui bagaimana C. burnetii dapat menginfeksi sapi Bali. Hal ini seperti yang diteliti Ejercito et al. (1993) tentang prevalensi C. burnetii pada ruminansia liar yaitu sebesar 69 % pada rusa liar di habitat aslinya yang terisolasi. Bagaimana hal tersebut bisa terjadi juga belum dapat dijelaskan, mengingat data penunjang yang sangat minim. Kemungkinan adalah melalui caplak dan kutu yang berpindah, hal ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
Adanya hasil uji PCR positif terhadap C. burnetii sebagai penyebab Q fever pada ruminansia di wilayah Indonesia merupakan suatu peringatan untuk mulai mempertimbangkan kembali tentang kebijakan impor sapi maupun daging sapi dari luar negeri secara khusus. Tindakan uji penapisan terhadap Q fever pada ternak ruminansia yang diimpor dari luar negeri untuk menghindari dan mencegah penyebaran Q fever sudah sepatutnya mulai ditegakkan. Hal ini mengingat banyaknya vektor yang bisa menyebarkan Q fever dan daya tahan bakteri C. burnetii yang sangat tinggi di alam sehingga upaya pemberantasan menjadi sangat sulit dilakukan.
Berdasarkan hasil pemeriksaan dengan menggunakan metode nested-PCR maka telah dapat ditemukan adanya infeksi C. burnetii di Indonesia, khususnya pada sapi Brahman cross 6.86 %, sapi Bali 4.29 %, dan domba 5.71 %, sedangkan pada kambing dari Bali tidak ditemukan adanya infeksi C. Burnetii.
Saran Perlu dilakukan penelitian yang lebih mendalam tentang Q fever meliputi pemetaan wilayah, uji serologis maupun penelitian tentang variasi genetik C. burnetii sehingga nantinya dapat diupayakan pembuatan imunoreagen diagnostik untuk penanganan yang tepat melalui diagnosa cepat dan akurat kasus Q fever pada hewan atau bahkan pada manusia.
Terima kasih atas artikelnya yang menarik tentang penyakit Q-Fever ini karena walaupun secara resmi penyakit ini belum ditemukan di Indonesia namun dilihat dari dampaknya yang cukup berbahaya bagi dunia peternakan maupun bagi masyarakat itu sendiri karena termasuk penyakit zoonosis maka perlu dilakukan pengawasan dari pemerintah yang ketat terhadap ternak maupun produk-produk peternakan yang masuk ke Indonesia terutama dari daerah endemik. Selain itu juga perlu ada upaya pencegahan terhadap produk-produk peternakan yang secara ilegal masuk ke Indonesia karena tidak terjaminan mutu dan keamanannya.
Sohei Tanaka
-
Nice to meet you
|
Unregistered
|
2008-02-22 22:46:31
Nice to meet you.
I'm Sohei Tanaka.I belong to Veterinary Public Health class, RAKUNOU GAKUEN university,Japan.
I learn coxiella burnetii.
In that,I'm interested in Indonesia
A sudden e-mail is sorry
I had a question. Please answer it if you know a question.
Q.About epimedeologic survey of coxiella burnetii.
For example, bovine,chiken and human antibody positive rate in IFA.
Q.Do you have English document adout this page?
Is sorry in poor English, but thanking you in advance.
Agus Setiyono, DVM, MS, PhD.
-
Q Fever in animals in Indonesi
|
|
2008-02-22 22:44:24
Dear Tanaka San,
Thank you for your email.
One of the IFA method that you can use in the survey of Q fever in humans, please see J.Clin.Microbiol. 43(11): 5555-5559. This documents in english. Another one is J. Jpn.Infect. Dis. 77:127-132 (in Japanese).
Please, my warm regards for Prof.Morita.
Do not hesitate to contact me if there are any questions or you are interesting more to study Q fever in Indonesia.
Sincerely yours,
Agus Setiyono, DVM, MS, PhD.
drh.siwi susilaningrum
-
saya tunggu perkembangan selan
|
Unregistered
|
2008-02-22 22:46:11
terimakasih atas artikelnya karena penyakit ini sangat penting sekali untuk pekerjaan saya. saya dinas di BBPTU sapi perah baturraden sangat mengaharap ada penelitian lebih lanjut akan penyakit ini. jika ada perkembangan mohon konfirmasi ke e-mail saya, karena institusi saya sangat memerlukan data tentang epidemiologi penyakit terutama penyakit di ruminansia.
Agus Setiyono, DVM, MS, PhD.
-
Ajakan kerjasama
|
|
2008-01-24 23:35:36
Dear Kolega Drh.Siwi Susilaningrum,
Terima kasih atas komentar dan harapan Anda tentang Q Fever pada ruminansia. Bila berkenan dan tidak keberatan, saya mengajak Anda dan tim BBPTU untuk bekerjasama untuk melakukan surveillance (pemantauan) Q fever di Baturaden. Caranya mudah saja, silakan koleksi serum ternak ruminansia(domba, kambing, sapi dll)lalu simpan di freezer (-20 derajat atau -84 derajat). Bila sudah terkumpul kontak saya, nanti bila cocok waktunya saya akan uji sera tersebut terhadap Q fever di Bogor (FKH IP. Demikian juga saya mengajak kolega Drh. semua yang tertarik dan mau bekerjasama untuk melakukan surveillance, mari kita selamatkan ternak kita dan tekan bahaya zoonosis.
Terima kasih.
Wassalam,
Agus Setiyono
carol
-
Seberapa bahaya Q Fever bagi m
|
|
2008-04-30 04:09:08
saya ingin seberapa berbahayakah Q fever bagi manusia, dan apa ada obatnya ? masa incubasi bakteri C. bunetii berapa lama ?terima kasih