|
Flu Burung Sering Bikin Bingung |
|
|
Ditulis Oleh Agung Wahyono
|
|
Selasa, 20 Pebruari 2007 |
Jika kita mencermati perkembangan flu burung lewat media massa, akhir-akhir ini tidak mustahil banyak di antara kita yang jadi agak bingung. Pada suatu saat kita dibikin tenteram karena ada kesan, seolah-olah masalah flu burung di negeri ini sudah teratasi tuntas. Di saat lain muncul kesan lain, flu burung adalah monster yang mengerikan.
Pada minggu-minggu terakhir ini saja, masyarakat “diombang-ambingkan” berita-berita tentang flu burung yang “simpang siur”. Misalnya, ada berita, di Garut, pasien suspect flu burung meninggal. Di Yogya, 2 pasien suspect flu burung dirawat di RS Sardjito. Hari berikutnya ternyata 2 pasien tersebut dinyatakan bebas flu burung, satu “hanya” menderita Flu biasa dan lainnya menderita TBC, hingga keduanya diperbolehkan pulang. Munculnya korban suspect flu burung di sekitar Jakarta membikin para petinggi negeri kita ini kelabakan. Apalagi berita itu dilatar-belakangi kenyataan, hingga saat ini korban flu burung di Indonesia adalah yang paling besar di dunia. Rinciannya pun tersedia. Korban di Cina “hanya” 14 tewas. Padahal negeri ini jumlah penduduknya terbesar di dunia. Selain itu disebut-sebut, kasus flu burung awal-awalnya terdeteksi di Hongkong, salah satu kawasan Cina. Selanjutnya, jumlah korban di Kamboja “hanya” 6, di Thailand ada 17, di Vietnam “hanya” 42, dan juaranya adalah Indonesia, dengan jumlah korban 61 orang tewas. Gubernur DKI Jakarta memerintahkan “memusnahkan” unggas untuk memutus mata rantai penularan virus H5N1, biang Avian Influenza alias flu burung. Gubernur menetapkan Jakarta bebas unggas 1 Februari 2007. Dan ketetapan itu segera dilaksanakan. Berikutnya Mendagri menginstruksikan, Kepala Daerah se-Indonesia segera menyusun Perda tentang flu burung. Mendagri menegaskan, para Gubernur tak boleh ragu memberantas flu burung. Pada kesempatan berikutnya, Wakil Presiden Jusuf Kalla menjelaskan, pemusnahan unggas selektif hanya dilakukan di daerah yang terserang virus H5N1. Selain itu di Jakarta diperlukan adanya sertifikasi unggas, dimulai 22 Januari 2007. Dari media massa kita tahu, pernyataan para Menteri pun simpang siur. Misalnya, cluster flu burung pada manusia muncul lagi justru setelah Menteri Kesehatan menyatakan bahwa cluster flu burung pada manusia sudah tidak ada lagi. Menteri Kesehatan mengatakan juga, soal flu burung, pemerintah tidak gagal. Menurut Menko Kesra, saat ini 30 propinsi bebas flu burung, termasuk Jakarta. Di Yogya, Wakil Walikota Drs Haryadi Suyuti mengatakan, peniadaan unggas di Yogya masih dikaji. Kesadaran masyarakat membasmi unggas perlu digugah. Meskipun puluhan unggas positif terserang AI di Gedongkuning sudah dimusnahkan. Prof drh R Wasito MSc PhD, mengajak kita semua mewaspadai munculnya apa yang disebut sebagai Silent flu burung. Sementara itu pakar peternakan Dr Ir Zuprizal DEA menulis di koran, lambannya penanganan kasus flu burung di negara kita ini dikarenakan kurangnya koordinasi antar instansi terkait, yakni Departemen Kesehatan dan Departemen Pertanian. Selain itu juga kurang efektifnya kerja Komisi Nasional Flu Burung dan Kesiapsiagaan Pandemi Influensa (Komnas FBPI). Kesimpang-siuran berita media massa sebaiknya tidak perlu membikin kita bingung menghadapi flu burung. Para pakar sudah berusaha mengusulkan yang terbaik. Yang penting, seluruh potensi yang ada di negeri kita ini segera bisa secara terpadu dioptimalkan untuk memenangkan perang melawan flu burung. Tags: Flu Burung Sering Bikin Bingung dokter hewan veterinary animal health Berita Terkait Berita Lebih Baru
|