|
Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada Sabtu (9/5) telah mengumumkan hasil penghitungan suara dan perolehan partai politik pada Pemilu Legislatif 2009, hasil akhir Partai Demokrat dinyatakan sebagai pemenang pemilu dengan perolehan suara 20.85%. Minggu ini juga telah dibuka pendaftaran bagi pasangan calon presiden dan wakil presiden maka dari itu partai politik yang memenuhi persyaratan duduk di kursi legislatif mulai membangun koalisi untuk maju ke pemilu presiden 2009. Sebagai rakyat biasa terlebih hanya petani/peternak tentunya kita hanya berharap siapapun pasangan presiden dan wakil presiden terpilih dapat mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat Indonesia.
Tidak berbeda dengan dunia politik yang saat ini mulai bersiap menghadapi pilpres 2009, dunia perunggasan khususnya kemitraan juga menyiapkan energi dan kekuatan untuk menyongsong tahun 2009 ini dengan semangat baru karena di bulan Mei ini dipercaya merupakan waktu yang tepat bagi usaha perunggasan untuk mulai mengisi kandang-kandang mereka. Hal ini mereka dapatkan dari pengalaman tahun-tahun sebelumnya, dan mereka berharap Mei s.d. Oktober tahun ini merupakan bulan Hoki bagi peternak. Bagi peternak selain harus pandai-pandai menentukan kapan waktu untuk mengisi kandang (check in) faktor lain yang mereka perhitungkan adalah dengan siapa mereka akan bermitra (memilih inti) karena inti mempunyai peranan yang besar dalam penyedia sapronak (pakan, obat, vaksin, DOC). Sekarang ini sudah banyak peternak yang pandai dan mereka sudah sangat selektif sekali dalam memilih inti/mitra yang bisa menawarkan kontrak dan sapronak yang ideal sehingga bisa memberikan keuntungan maksimal bagi peternak maupun inti (win-win solution). Kemitraan modern merupakan kemitraan yang selalu mengikuti perkembangan genetik dan teknologi pemeliharaan budidaya broiler dan hal ini menjadi alternatif yang mulai dilirik peternak. Banyak sekali kemitraan yang kita kenal seperti TTM Pokphand, PKP Comfeed, Anwar Sierad, Janu Putra, Duta Technovet, Wonokoyo, Catur Karya, UMI, MTA, SMJ, Ciomas, Galaxy, Patriot, Setia Budi, dan masih banyak lagi kemitraan yang dibentuk perusahaan maupun kemitraan lokal. Masing-masing kemitraan ini menawarkan kontrak dan sapronak yang berbeda-beda yang tentunya juga memberikan hasil keuntungan yang berbeda-beda pula bagi peternak. Dalam membentuk unit kemitraan inti mempunyai pertimbangan sendiri-sendiri dalam memilih mitra (bahasa politiknya “koalisi”). Mitra inti untuk membentuk sebuah unit kemitraan diantaranya adalah perusahaan pakan, perusahaan obat/vaksin, dan perusahaan DOC serta Marketing/Pasar. Perusahaan pakan yang biasa mensuply unit kemitraan diantaranya : Pokphand, Comfeed, Sierad, Wonokoyo, Samsung, Cargill, Benefeed, Gold Coin, Malindo, Mabar, Patriot, Welgro, dll. Sedangkan Perusahaan Obat yang terlibat yaitu Romindo, Agrinusa, Medion, Ekasapta, Piser, Indovetraco, Paeco, Pyridam, Sanbe, Indofarma, Biotek, Vaksindo, Mensana, SHS, Sumber Multivita, dll. Perusahaan DOC yang biasa dikenal adalah Pokphand Group, Multibreeder, Cobb, Wonokoyo, Sierad, Super Unggas Jaya, dll. Dari perusahaan-perusahaan tersebut Inti kemitraan biasanya mempertimbangkan kualitas dan juga harga pokok sehingga BEP (Break Event Point) untuk pemeliharaan setelah di tambah dengan komponen operasional dan PPL oleh Inti bisa ditekan sehingga dapat menawarkan harga kontrak daging yang tinggi ke peternak. Di era kemitraan modern saat ini banyak sekali masuknya investor dalam skala menengah dan besar dengan sistem dan pengelolaan lebih modern pula, mereka beramai–ramai masuk pedesaan untuk menikmati boomingnya sektor perunggasan. Beberapa dekade kemudian atmosfir bidang perunggasanpun berubah, Meningkatnya supply produk perunggasan mendorong para pelaku terjebak dalam perangkap kompetisi yang melelahkan, berdarah-darah dan menuju kehancuran finansial. Dalam menghadapi tantangan tersebut bagamana caranya? Peternak harus mampu bertahan baik di budidaya maupun di pernapasan modal. Strategi untuk betahan di era kemitraan modern yaitu dengan perbanyak informasi aktual tentang 1. Perkembangan evolusi genetik unggas, 2. Kontinu dalam Produksi, 3. Bekerjasama dengan peternak di pedesaan, 4. Bahan baku yang berkualitas, 5. Perbaiki manajement terus menerus, dan 6. Berdoa supaya tidak ada isu flu burung yang bisa mempengaruhi konsumsi daging. Perkembangan evolusi genetik broiler pada kemitraan modern tahun 2007 sampai sekarang sudah mencapai : berat DOC 42 gram, umur 7 hari 175 gram, umur panen 35 hari 2.01 gram, Gain 57, FCR (feed convertion rate) 1.56 diperoleh dari Berat Pakan /Panen (kg), dan uniformity 90. Dari perkembangan evolusi geneik tersebut dapat di peroleh Indeks Prestasi (IP) = Daya Hidup dikalikan BB rata-rata dibagi FCR dikalikan umur rata-rata kali 100%, hasil IP ideal diatas 270. Kemitraan perunggasan mempunyai tujuan utama untuk saling berbagi sumber daya dalam mengoptimalkan nilai tambah dari input, proses produksi, maupun output. Prinsip share in resources and benefit tersebut dapat meningkatkan manfaat ekonomi “pro ekonomi kerakyatan” bagi kedua belah pihak yang bermitra. Manfaat bermitra sudah banyak dirasakan para peternak yang tersebar di Indonesia mencapai 70%—90%. Secara umum, kemitraan ayam ras pedaging di tanah air terbagi menjadi 3 sistem: bagi hasil, harga kontrak, dan manajemen fee atau makloon. Meskipun dasar perhitungan laba rugi dalam sistem kemitraan tersebut adalah IP, tapi pola kemitraan yang diterapkan inti bermacam-macam. Apapun model yang dipilih di”contreng”, bila kedua belah pihak menjalankan hak dan kewajiban masing-masing dengan benar, kemitraan akan mendatangkan keuntungan bagi kedua belah pihak (inti-plasma). Agung Wahyono.
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
www.vet-indo.com/agung Berita Terkait Berita Lebih Baru
Berita Lebih Lama
|